RSS

Mengeluh

Tulisan Rhenald Kasali ini layak disimak...

Guys, dolar sudah tembus Rp 13.3 ribu. Sebentar lagi akan banyak kita saksikan postingan yang hanya mengeluhkan keadaan dan complain. Padahal bagi mereka yang memiliki entrepreneurial thinking & action, remember this one: Every single bad news is good news. It is opportunity.
Dulu saat dollar tembus Rp 17.000 (krismon 1998) dimana-mana hanya ada komplain, karena sebagian besar pengusaha hutangnya in USD. Tetapi diam-diam petani kopi di Lahat, lampung, dll, hidup senang dari export.

Demikian juga exportir lainnya. Senang diam saja. Rugi, ramai!
Tentu ini tidak akan menyenangkan bagi mereka yang berpenghasilan tetap: PEGAWAI. Apalagi jika sudah sangat konsumtif. Tentu ini menyulitkan bagi pengrajin Tempe, karena sebagian besar bahan baku kedelai kita masih impor. Tapi ini baik bagi petani kedelai lokal.
Sayangnya, luas lahan pertanian kedelai untuk memenuhi perut kita yang doyan makan tempe tidak memadai. Selain masakah alam dan logistic.

Sayangnya pula, ini menjelang hari raya. Kebutuhan pangan kita sedang tinggi2nya. Stok kita pun perlu penanganan khusus, sebab kita tinggal di negri kepulauan yang uang untuk bangun infrastrukturnya bertahun2 telah kita bakar buat subsidi BBM di daerah padat.

Dan KEPAHITAN INI masih harus kita jalani minimal 3 tahun ke depan. Mengapa 3 TAHUN?. Karena inilah PERUBAHAN. Ketika kurva ekonomi sedang naik ke atas, kita bongkar karena ekonomi selama ini TIDAK BALANCE. Selama ini tidak balance antara kapitalisme dengan kerakyatan, antara Indonesia barat dengan timur, antara plutokrat dengan buruh.
KITA Bongkar, terjadi perubahan, kurva pertama dalam SIGMOID CURVE kita tinggalkan. Masuk ke kurva kedua, harus siap turun dahulu. TURUN karena rakyat kaya tak disubsidi BBM nya, impaknya pada harga pangan, tapi infrastruktur yang dibangun baru akan jadi 3 tahun lagi.
PADAHAL infrastruktur yang buruk itulah yang mengakibatkan kita kalah bersaing dengan negri jiran, logistic cost kita mahal, ketimpangan dsb. Pelabuhan2 baru yang lautnya dalam, dermaga lebih luas, dengan teknologi baru, akan jadi 3 tahun lagi. Kita baru pada tahap groundbreaking.

Selama 30 tahun Jasa Marga hadir, kita hanya bisa membangun 800 km jalan tol. Kini akan dibangun jalan tol baru besar2an. Selama bertahun2 kita sedikit sekali mebangun power plant, bberapa tahun terakhir hanya 1.000-2.000 MW. Kini dibangun 7-10.000 MW setahun. Selama puluhan tahun kereta api hanya ada di jawa dan sebagian Sumatra, tahun depan ribuan KM akan dibangun di semua pulau Nusantara.
Semua itu akan membuat kita lebih baik, tapi 3-5 tahun lagi. Sabarkah kita? Ini masalah besar. Kesabaran bukan masalah kecil. Sulit disangkal kita tengah terbelenggu oleh Zona Nyaman. Nyaman dengan uang banyak, pulsa murah, bebas bicara, dan jual kecap. Kita lagi senang ganti gadget, motor-mobil, ziarah, piknik, umroh, beli tas mewah (40% yang antree di hermes Paris adalah orang kita).

Pengacara kita juga senang karena sedang banyak kasus korupsi, prostitusi, artis konflik, sengketa tanah, judicial review dst. Feenya pun tinggi. Dokter juga senang karena rumahsakit penuh terus, penyakit tak kunjung habis di negri ini. Bahkan dukun pun sibuk.
Wirausaha juga senang karena masih bisa menghindar dari pajak, meski perijinan mahal, toh bisa usaha tanpa izin. Guru2 juga senang karena sejak gajinya membaik, status lebih menatik, motor pun berganti mobil.
Politisi yang korup juga makin senang karena KPK sedang melemah dan mereka bisa mengajukan praperadilan. Orangtua pun senang karena memasukkan anak ke SD sampai SMA pun gratis. Tak banyak yang menyadari bahwa uang kuliah kita pun underprice. Kebanyakan preman pun juga senang karena mereka bisa membuat ormas yang tak bisa dibubarkan. Ormas2 bisa jadi alat untuk menekan, demo bayaran dll.
Tetapi semua itu selalu disambut dengan PENYANGKALAN.

Menyangkal telah menjadi kaya. Kita terus merasa miskin dan akhirnya kelakuan kita pun bak rakyat miskin. Kita menjadi lebih banyak menuntut ketimbang berbuat, blamming others ketimbang mengkoreksi diri, mencari2 kesalahan ketimbang usulan. Kita menjadi lebih banyak ingin menguasai, mengambil. Ketimbang memberi. Dan menjadi tak sabaran.
Padahal, perubahan kita suarakan. Kita tuntut. Namun tak banyak yang mengerti, perubahan itu artinya PENGORBANAN. PERUBAHAN itu butuh kita. Butuh dukungan moril. Bukan hujatan. Kalau anda hujat, mereka akan kembali POPULIS dan AMBIGU seperti masa lalu.

BERBAHAGIALAH kalian yang bersabar, yang sudah melihat (masa depan itu), meski BELUM TERLIHAT. NAMUN kasihanilah, mereka yang DIBUTAKAN, apalagi yang sudah buta namun mulutnya pedas, enteng menghujat dan selalu menyuarakan kebencian.

Sekali lagi, PERUBAHAN butuh KITA. Jangan buang waktu. BERBUAT jauh lebih baik ketimbang mencari-cari kesalahan. Kata E Rossevelt, The Future belongs to those who believe in the beauty of their dreams. Action Kata E Rossevelt, The Future belongs to those who believe in the beauty of their dreams. Action yuk.

(Rhenald Kasali)

Semua yang kita perjuangkan butuh pengorbanan. Tuhan mengatakan, jalannya orang-orang beriman mendaki lagi terjal. Menurut pandangan saya, hanya orang-orang beriman yang mampu berkorban untuk masa depan yang lebih baik. Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman.

Pemimpin dan peci besar

Kapan ya pemimpin2 Indonesia memakai peci spt mereka yg memiliki makna mendalam : Kalau melihat gambar Sultan-sultan Dinasti Ottoman di Turky, kelihatan peci mereka besar-besar, apa nggak keberatan, ya?
Ternyata, itu bukan sekedar peci, topi, atau mahkota, tetapi kain kafan yang dipersiapkan untuk mereka, kain kafan diikat menjadi mahkota, dan itu adalah salah satu syarat menjadi Sultan.
Artinya, setiap Sultan yang memimpin Turky harus berjiwa mujahid, harus berani memimpin perang dan berada di barisan terdepan, dan itu juga sebagai pengingat kepada Sultan, bahwa kematian selalu mengintainya, dan kain kafan sudah disiapkan, sehingga dalam memimpin Negara dan rakyat, dia harus sadar bahwa itu hanya amanah, bukan keren-keranan, bukan buat bangga-banggaan, tapi itu adalah kesempatan mengumpulkan kebaikan, dan saat dia mau berbuat zalim, dia akan ingat kalau kain kafan selalu di kepalanya, kapan saja dia bisa mati.
Sultan Bayazid, salah satu Sultan yang syahid di medan perang melawan tentara Romawi yang berkoalisi dengan Rusia dan Jerman, beliau syahid dan dikafani dengan kain pecinya itu.

Menghormati yang tidak berpuasa

12 tahun silam, saat saya baru lulus kuliah, saya sudah menemukan konsep baru yang sangat membingungkan ini: Orang2 berpuasa diminta menghormati orang2 yang tidak berpuasa. Maka, saat ramadhan datang, apa salahnya jika tempat2 hiburan tetap buka, rumah makan tetap beroperasi penuh, dsbgnya. Apa salahnya jika klub malam tetap beroperasi. Toh, mereka juga mencari makan, nafkah dari bisnis mereka.

Saya membaca tulisan itu di milist (jaman itu belum ada media sosial). Saya masih muda, masih tidak berpengalaman. Saat membaca tulisan tersebut, aduhai, isinya masuk akal sekali. Benar loh, kan kita berpuasa itu disuruh menahan diri, agar jadi lebih baik, masa' kita akan tergoda saat melihat warung buka, masa' kita akan tergoda saat melihat tempat hiburan ada di mana2? Full beroperasi. Kalau masih, berarti puasa kita nggak oke. Itu logika yang masuk akal sekali. Tapi saya bersyukur, saya tidak pernah membiarkan "logika" sendirian saat menentukan prinsip2 yang akan saya gigit. Saya selalu memberikan kesempatan mendengarkan pendapat lain.

Baik. Itu mungkin masuk akal, orang2 berpuasa disuruh menghormati orang2 tidak berpuasa, tapi di mana poinnya? Apakah orang2 yang berpuasa mengganggu kemaslahatan hidup orang2 tidak berpuasa? Apakah orang2 berpuasa ini punya potensi merusak? Sehingga harus ada tulisan, himbauan, pernyataan: kalian yang puasa, hormatilah orang yang tidak berpuasa. No way, man, itu logika yang bablas sekali. Saya tahu, ada banyak razia penuh kekerasan dilakukan kelompok tertentu atas tempat2 hiburan, warung2, dll. Tapi itu bukan cerminan kelompok besar muslim di negeri ini. Kelompok besarnya, bahkan tidak suka dengan cara2 penuh kekerasan ini, pun tidak suka dengan kelompok ini.

Lantas siapa yang seharusnya menghormati?

Default dalam situasi ini adalah: ingatlah baik2, ramadhan itu sudah ribuan tahun usianya, 1.434 tahun tepatnya. Bahkan perintah shaum, itu hampir seusia manusia di bumi ini, agama2 terdahulu juga memilikinya. Kalau itu sebuah tradisi, maka dia lebih tua dibanding tradisi apapun yang kalian kenal, silahkan sebut tradisinya, puasa lebih tua. Maka, tidak pantas, manusia yang usianya paling rata2 hanya 60 tahun, tiba2 mengkritisi puasa, memandangnya sebagai sesuatu yang artifisial, tidak penting, dsbgnya. Ramadhan adalah bulan paling penting dalam agama Islam, jelas sekali posisinya.

Sama dengan sebuah komplek, itu komplek sudah 1.434 tahun punya tradisi tidak boleh memelihara hewan peliharaan. Kemudian datanglah keluarga baru, membawa hewan yang berisik sekali setiap malam. Siapa yang disuruh menghormati? Wow, warga satu komplek yang disuruh menghormati keluarga dengan hewan berisik? Demi alasan egaliter, HAM, kesetaraan, kebebasan, dan omong kosong lainnya. Kalian tahu, ketika orang2 tidak punya argumen substantif dalam hidup ini, maka senjata mereka memang hanya itu: kebebasan. Amunisi paling mudah saat melawan agama adalah: kebebasan. Hingga lupa, siapa sih yang over sekali menyikapi situasi ini?

Karena sejatinya, tidak ada pula yang menyuruh warung2 full tutup, warung2 makan cukup diberikan tirai saat bulan Ramadhan, semua baik2 saja. Itu lebih dari cukup. Lantas soal klub malam? Diskotik? Tempat2 menjual minuman keras? Kalian punya 11 bulan untuk melakukannya, diminta libur sebulan, apa susahnya? 11 bulan orang lain menghormati kalian melakukannya, maka tiba giliran 1 bulan, apa susahnya mengalah? Tidak perlu sampai ribut, sampai berantem, sampai dirazia, cukup kesadaran diri saja. Tidak ada yang meminta kalian tutup 12 bulan.

Kusutnya masalah ini, kadang yang mengotot sekali justeru sebenarnya beragam Islam. Orang2 yang beragama lain, sudah otomatis menyesuaikan diri. Saya punya banyak teman2 non Islam, saat mereka makan siang, mereka dengan sangat respek minta ijin, bisa menempatkan diri dengan baik. Hampir semua agama itu punya ibadah yang harus dihormati. Di Bali misalnya, saat Nyepi, mau agama apapun, semua orang diminta menghormati Nyepi. Tidak ada alasan: kebebasan, boleh dong saya hura2 saat Nyepi.

Saya tahu, silahkan saja jika kalian tetap punya tapi, tapi dan tapi. Saya hanya mengingatkan: sekali orang2 mulai terbiasa membalik2 logika, dalam urusan ini, hanya soal waktu, besok lusa akan ada yang bilang: adzan di masjid itu mengganggu. Kemudian orang2 akan mengangguk, mengamini, benar juga ya, kenapa harus teriak2 sih adzannya? Kenapa harus pakai speaker? Kan bisa pakai SMS, miskol, dll. Itu pemeluk agama Islam kok bego banget, tidak tahu teknologi.

Saat itu terjadi, maka silahkan tanggung dosanya, wahai kalian, orang2 yang bangga sekali dengan logika hidupnya. Bangga sekali dengan kepintarannya berdebat, kalian --mungkin tanpa menyadarinya-- telah memulai menggelindingkan bola salju agar orang2 lain mulai meninggalkan agamanya.

Terakhir, ada jutaan anak2 kami yang baru belajar puasa ramadhan ini, saat mereka pulang sekolah TK, SD, saat mereka habis2an menahan haus dan lapar, maka jika kalian yang keblinger sekali pintarnya tidak bisa melihat mozaik besar ramadhaperinta lihatlah anak2 ini, mereka sedang berusaha taat melaksanakan perinta agama--bahkan saat mereka belum tahu-menahu. Hormatilah anak2 kami ini. Jangan suruh mereka menghormati orang2 yang tidak berpuasa.

*Tere Darwis Tere Liye