Kenapa harus kompak, karena kelas-kelas ini adalah perwujudan amal jama扞 untuk mempraktekkan persaudaraan sebagai bangunan yang kokoh, bunyaanun mashush (QS 61:4)
Dalam dunia kerja ini, mampu bekerja dalam tim yang melibatkan akhlak dan kecerdasan emosi tinggi, jauh lebih diperlukan dari kepandaian seseorang. Dalam kehidupan beragama, ini adalah amal bersama itu sendiri, bangunan yang kokoh yang dicintai Allah. Sinergi bekerjasama memungkinkan hasil yang didapat atau prestasi yang diraih akan jauh lebih bernilai.
Kelas yang kompak dan berprestasi dimulai dari guru yang hebat. Dan yang hanya dilakukan oleh guru yang hebat adalah sebagai berikut:
1.Guru yang hebat memulai dengan pemahaman otoritas kelas
Otoritas bisa kita perkenalkan dengan verbal, misalnya dengan:
Selamat datang di kelasku, aku senang bertemu denganmu. Ini kelasku, yang juga milikmu. Kalau di rumah, ayah bundamu adalah pemimpinmu, di sini, aku dan bapak A adalah pemimpinmu. insyaAllah kami akan memberikan yang terbaik untukmu, dan kita akan mengalami perjalanan seru selama setahun ke depan. Tugasku adalah membimbingmu dan memastikan pembelajaran berjalan sebagaimana mestinya. Tugasmu adalah banyak-banyak melakukan hal baik, karena hanya amal baiklah yang membuat kita bahagia.
Penandaan sebuah otoritas dengan perbuatan adalah: Anda harus berada di kelas 5 menit lebih awal dari anak murid yang pertama kali datang, itu otomatis memberikan anda otoritas. Perbuatan lebih utama dari kata-kata. Mengapa harus ada otoritas? Karena anda pemegang tanggungjawab, dan pemegang tanggungjawab harus mempunyai wewenang. Harga sebuah kehebatan adalah tanggungjawab. Tanggungjawab adalah sebuah nilai yang membuat seseorang itu hebat.
Anak-anak dan siswa butuh mengetahui otoritas dan belajar hidup bersamanya, dengan ujungnya pemilik segala otoritas adalah Allah.
2.Guru yang hebat membangun ekspektasi yang jelas sejak awal tahun, baik kepada anak murid, kepada orangtua dan terutama kepada dirinya sendiri. Komunikasikan juga ekspektasi detil per harinya/ per kegiatan.
Ekspektasi atau pengharapan, target, harus dikomunikasikan dengan baik. Harus dijaharkan, ditulis, dan anak-anak tahu apa yang akan mereka tuju selama bersama anda, atau selama berskolah di situ. Ekspektasi bisa juga disebut visi dan keyakinan.
Guru yang baik bisa menjelaskan, apa sebab kita melakukan apa yang sedang kita lakukan sekarang dan selanjutnya.
Hakikat guru adalah ia punya VISI dan KEYAKINAN bahwa hal itu akan tercapai. Guru menginspirasi kekuatan dan energi untuk mewujudkannya.
Mohondilihat highlight dan salplan.
3.Menginspirasi murid sehingga mengejar target berdasarkan kemauan sendiri
Misalnya:
Oke, dalam 6 bulam ke depan kita akan belajar tentang CUACA. Menemukan kehebatan Tuhan dalam makhluk bernama cuaca. Kita akan mengerahkan usaha sebaik mungkin. Mengasah otak kita, hati, rasa dan akhlak, dan aku yakin kita akan bersama-sama melakukannya. Bla bla
Guru itu menetapkan tujuan tanpa perlu menggiring pasukannya. Guru mendorong orang melakukan sesuatu dengan sukarela hingga dengan kekuatan dan keinginan mereka sendiri, anak-anak ini akan berlomba-lomba dan bekerjasama agar bisa memenuhi target dengan sukarela.
Itu yang disebut menginspirasi. Guru yang baik, mampu menumbuhkan kepercayaan diri anggotanya. Dan kita tidak akan bisa membayangkan betapa hebatnya apa yang bisa dilakukan sebuah tim ataupun priabdi jika masing-masing anggota percaya pada kekuatan diri mereka sendiri.
4.Tugas guru yang utama adalah memberi makna. Pemberian makna ini, dengan memberikan 1 umpan di awal sesi atau di pagi hari dan dengan 2 kuncian atau refleksi di tiap akhir hari/ akhir kelas.
Tanpa ekspektasi yang jelas di awal. Tanpa fokus kepada proses, dan tanpa refleksi, dapat dipastikan murid gagal mengambil pelajaran. Jika tindak tanduk yang guru lakukan sudah menginspirasi orang untuk bermimpi lebih, belajar lebih, berbuat lebih, maka kita sudah menjadi pemimpin. Ekspektasi � Proses � Refleksi.
5.Bawa keriangan dan kebahagiaan dalam pelajaran yang anda ampu! Riang dan bahagia disebut dengan jelas oleh Tuhan sebagai tanda rahmat-Nya (surat Al Insaan). Dan keriangan itu menular. Mudahkanlah, jangan dipersulit.
6.Guru yang mengajar dengan cinta, paham kekuatan RESPEK dan PUJIAN, dan ia melakukannya dengan cara yang benar.
7.Guru yang hebat mampu melihat kekuatan pada masing-masing muridnya.
Di situlah fungus kita ada, membantu menemukan bintang terang dan berlian yang sudah ada dalam diri masing-masing anak dan menggosoknya hingga cemerlang. Konstelasi dengan bintang yang lain akan membuatnya makin cemerlang dan melipatgandakan manfaat. Apa yang kita fokus, tumbuh. Maka fokuslah kepada hal-hal positif dan kekuatan anak-anak ini.
8.Berani dan inisiatif yang membuat seseorang itu, guru yang memimpin
Kita ini guru yang akan menciptakan pemimpin. Hanya guru hebat yang menciptakan pemimpin. Kita tidak menciptakan pengikut. Kita tidak menciptakan ensiklopedia berjalan bukan? Dengan hafalan-hafalan fakta-fakta yang ada layaknya di sebuah ensiklopedia? Karena yang layak untuk sekuat tenaga dihafalkan hanya Al Quran. Kita ini membawa misi pendidikan sejati, kekhalifahan.
Dan ternyata yang dilakukan guru hebat adalah semua kekuatan yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang hebat. Jika kata guru di atas diganti menjadi pemimpin, maka yang akan terjadi, kalimat tersebut sama persis yang ada di quote-quote tentang pemimpin.
Menjalankan kelas yang kompak dan berprestasi!
Mengeluh
Tulisan Rhenald Kasali ini layak disimak...
Guys, dolar sudah tembus Rp 13.3 ribu. Sebentar lagi akan banyak kita saksikan postingan yang hanya mengeluhkan keadaan dan complain. Padahal bagi mereka yang memiliki entrepreneurial thinking & action, remember this one: Every single bad news is good news. It is opportunity.
Dulu saat dollar tembus Rp 17.000 (krismon 1998) dimana-mana hanya ada komplain, karena sebagian besar pengusaha hutangnya in USD. Tetapi diam-diam petani kopi di Lahat, lampung, dll, hidup senang dari export.
Demikian juga exportir lainnya. Senang diam saja. Rugi, ramai!
Tentu ini tidak akan menyenangkan bagi mereka yang berpenghasilan tetap: PEGAWAI. Apalagi jika sudah sangat konsumtif. Tentu ini menyulitkan bagi pengrajin Tempe, karena sebagian besar bahan baku kedelai kita masih impor. Tapi ini baik bagi petani kedelai lokal.
Sayangnya, luas lahan pertanian kedelai untuk memenuhi perut kita yang doyan makan tempe tidak memadai. Selain masakah alam dan logistic.
Sayangnya pula, ini menjelang hari raya. Kebutuhan pangan kita sedang tinggi2nya. Stok kita pun perlu penanganan khusus, sebab kita tinggal di negri kepulauan yang uang untuk bangun infrastrukturnya bertahun2 telah kita bakar buat subsidi BBM di daerah padat.
Dan KEPAHITAN INI masih harus kita jalani minimal 3 tahun ke depan. Mengapa 3 TAHUN?. Karena inilah PERUBAHAN. Ketika kurva ekonomi sedang naik ke atas, kita bongkar karena ekonomi selama ini TIDAK BALANCE. Selama ini tidak balance antara kapitalisme dengan kerakyatan, antara Indonesia barat dengan timur, antara plutokrat dengan buruh.
KITA Bongkar, terjadi perubahan, kurva pertama dalam SIGMOID CURVE kita tinggalkan. Masuk ke kurva kedua, harus siap turun dahulu. TURUN karena rakyat kaya tak disubsidi BBM nya, impaknya pada harga pangan, tapi infrastruktur yang dibangun baru akan jadi 3 tahun lagi.
PADAHAL infrastruktur yang buruk itulah yang mengakibatkan kita kalah bersaing dengan negri jiran, logistic cost kita mahal, ketimpangan dsb. Pelabuhan2 baru yang lautnya dalam, dermaga lebih luas, dengan teknologi baru, akan jadi 3 tahun lagi. Kita baru pada tahap groundbreaking.
Selama 30 tahun Jasa Marga hadir, kita hanya bisa membangun 800 km jalan tol. Kini akan dibangun jalan tol baru besar2an. Selama bertahun2 kita sedikit sekali mebangun power plant, bberapa tahun terakhir hanya 1.000-2.000 MW. Kini dibangun 7-10.000 MW setahun. Selama puluhan tahun kereta api hanya ada di jawa dan sebagian Sumatra, tahun depan ribuan KM akan dibangun di semua pulau Nusantara.
Semua itu akan membuat kita lebih baik, tapi 3-5 tahun lagi. Sabarkah kita? Ini masalah besar. Kesabaran bukan masalah kecil. Sulit disangkal kita tengah terbelenggu oleh Zona Nyaman. Nyaman dengan uang banyak, pulsa murah, bebas bicara, dan jual kecap. Kita lagi senang ganti gadget, motor-mobil, ziarah, piknik, umroh, beli tas mewah (40% yang antree di hermes Paris adalah orang kita).
Pengacara kita juga senang karena sedang banyak kasus korupsi, prostitusi, artis konflik, sengketa tanah, judicial review dst. Feenya pun tinggi. Dokter juga senang karena rumahsakit penuh terus, penyakit tak kunjung habis di negri ini. Bahkan dukun pun sibuk.
Wirausaha juga senang karena masih bisa menghindar dari pajak, meski perijinan mahal, toh bisa usaha tanpa izin. Guru2 juga senang karena sejak gajinya membaik, status lebih menatik, motor pun berganti mobil.
Politisi yang korup juga makin senang karena KPK sedang melemah dan mereka bisa mengajukan praperadilan. Orangtua pun senang karena memasukkan anak ke SD sampai SMA pun gratis. Tak banyak yang menyadari bahwa uang kuliah kita pun underprice. Kebanyakan preman pun juga senang karena mereka bisa membuat ormas yang tak bisa dibubarkan. Ormas2 bisa jadi alat untuk menekan, demo bayaran dll.
Tetapi semua itu selalu disambut dengan PENYANGKALAN.
Menyangkal telah menjadi kaya. Kita terus merasa miskin dan akhirnya kelakuan kita pun bak rakyat miskin. Kita menjadi lebih banyak menuntut ketimbang berbuat, blamming others ketimbang mengkoreksi diri, mencari2 kesalahan ketimbang usulan. Kita menjadi lebih banyak ingin menguasai, mengambil. Ketimbang memberi. Dan menjadi tak sabaran.
Padahal, perubahan kita suarakan. Kita tuntut. Namun tak banyak yang mengerti, perubahan itu artinya PENGORBANAN. PERUBAHAN itu butuh kita. Butuh dukungan moril. Bukan hujatan. Kalau anda hujat, mereka akan kembali POPULIS dan AMBIGU seperti masa lalu.
BERBAHAGIALAH kalian yang bersabar, yang sudah melihat (masa depan itu), meski BELUM TERLIHAT. NAMUN kasihanilah, mereka yang DIBUTAKAN, apalagi yang sudah buta namun mulutnya pedas, enteng menghujat dan selalu menyuarakan kebencian.
Sekali lagi, PERUBAHAN butuh KITA. Jangan buang waktu. BERBUAT jauh lebih baik ketimbang mencari-cari kesalahan. Kata E Rossevelt, The Future belongs to those who believe in the beauty of their dreams. Action Kata E Rossevelt, The Future belongs to those who believe in the beauty of their dreams. Action yuk.
(Rhenald Kasali)
Semua yang kita perjuangkan butuh pengorbanan. Tuhan mengatakan, jalannya orang-orang beriman mendaki lagi terjal. Menurut pandangan saya, hanya orang-orang beriman yang mampu berkorban untuk masa depan yang lebih baik. Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman.
Pemimpin dan peci besar
Kapan ya pemimpin2 Indonesia memakai peci spt mereka yg memiliki makna mendalam : Kalau melihat gambar Sultan-sultan Dinasti Ottoman di Turky, kelihatan peci mereka besar-besar, apa nggak keberatan, ya?
Ternyata, itu bukan sekedar peci, topi, atau mahkota, tetapi kain kafan yang dipersiapkan untuk mereka, kain kafan diikat menjadi mahkota, dan itu adalah salah satu syarat menjadi Sultan.
Artinya, setiap Sultan yang memimpin Turky harus berjiwa mujahid, harus berani memimpin perang dan berada di barisan terdepan, dan itu juga sebagai pengingat kepada Sultan, bahwa kematian selalu mengintainya, dan kain kafan sudah disiapkan, sehingga dalam memimpin Negara dan rakyat, dia harus sadar bahwa itu hanya amanah, bukan keren-keranan, bukan buat bangga-banggaan, tapi itu adalah kesempatan mengumpulkan kebaikan, dan saat dia mau berbuat zalim, dia akan ingat kalau kain kafan selalu di kepalanya, kapan saja dia bisa mati.
Sultan Bayazid, salah satu Sultan yang syahid di medan perang melawan tentara Romawi yang berkoalisi dengan Rusia dan Jerman, beliau syahid dan dikafani dengan kain pecinya itu.
Menghormati yang tidak berpuasa
12 tahun silam, saat saya baru lulus kuliah, saya sudah menemukan konsep baru yang sangat membingungkan ini: Orang2 berpuasa diminta menghormati orang2 yang tidak berpuasa. Maka, saat ramadhan datang, apa salahnya jika tempat2 hiburan tetap buka, rumah makan tetap beroperasi penuh, dsbgnya. Apa salahnya jika klub malam tetap beroperasi. Toh, mereka juga mencari makan, nafkah dari bisnis mereka.
Saya membaca tulisan itu di milist (jaman itu belum ada media sosial). Saya masih muda, masih tidak berpengalaman. Saat membaca tulisan tersebut, aduhai, isinya masuk akal sekali. Benar loh, kan kita berpuasa itu disuruh menahan diri, agar jadi lebih baik, masa' kita akan tergoda saat melihat warung buka, masa' kita akan tergoda saat melihat tempat hiburan ada di mana2? Full beroperasi. Kalau masih, berarti puasa kita nggak oke. Itu logika yang masuk akal sekali. Tapi saya bersyukur, saya tidak pernah membiarkan "logika" sendirian saat menentukan prinsip2 yang akan saya gigit. Saya selalu memberikan kesempatan mendengarkan pendapat lain.
Baik. Itu mungkin masuk akal, orang2 berpuasa disuruh menghormati orang2 tidak berpuasa, tapi di mana poinnya? Apakah orang2 yang berpuasa mengganggu kemaslahatan hidup orang2 tidak berpuasa? Apakah orang2 berpuasa ini punya potensi merusak? Sehingga harus ada tulisan, himbauan, pernyataan: kalian yang puasa, hormatilah orang yang tidak berpuasa. No way, man, itu logika yang bablas sekali. Saya tahu, ada banyak razia penuh kekerasan dilakukan kelompok tertentu atas tempat2 hiburan, warung2, dll. Tapi itu bukan cerminan kelompok besar muslim di negeri ini. Kelompok besarnya, bahkan tidak suka dengan cara2 penuh kekerasan ini, pun tidak suka dengan kelompok ini.
Lantas siapa yang seharusnya menghormati?
Default dalam situasi ini adalah: ingatlah baik2, ramadhan itu sudah ribuan tahun usianya, 1.434 tahun tepatnya. Bahkan perintah shaum, itu hampir seusia manusia di bumi ini, agama2 terdahulu juga memilikinya. Kalau itu sebuah tradisi, maka dia lebih tua dibanding tradisi apapun yang kalian kenal, silahkan sebut tradisinya, puasa lebih tua. Maka, tidak pantas, manusia yang usianya paling rata2 hanya 60 tahun, tiba2 mengkritisi puasa, memandangnya sebagai sesuatu yang artifisial, tidak penting, dsbgnya. Ramadhan adalah bulan paling penting dalam agama Islam, jelas sekali posisinya.
Sama dengan sebuah komplek, itu komplek sudah 1.434 tahun punya tradisi tidak boleh memelihara hewan peliharaan. Kemudian datanglah keluarga baru, membawa hewan yang berisik sekali setiap malam. Siapa yang disuruh menghormati? Wow, warga satu komplek yang disuruh menghormati keluarga dengan hewan berisik? Demi alasan egaliter, HAM, kesetaraan, kebebasan, dan omong kosong lainnya. Kalian tahu, ketika orang2 tidak punya argumen substantif dalam hidup ini, maka senjata mereka memang hanya itu: kebebasan. Amunisi paling mudah saat melawan agama adalah: kebebasan. Hingga lupa, siapa sih yang over sekali menyikapi situasi ini?
Karena sejatinya, tidak ada pula yang menyuruh warung2 full tutup, warung2 makan cukup diberikan tirai saat bulan Ramadhan, semua baik2 saja. Itu lebih dari cukup. Lantas soal klub malam? Diskotik? Tempat2 menjual minuman keras? Kalian punya 11 bulan untuk melakukannya, diminta libur sebulan, apa susahnya? 11 bulan orang lain menghormati kalian melakukannya, maka tiba giliran 1 bulan, apa susahnya mengalah? Tidak perlu sampai ribut, sampai berantem, sampai dirazia, cukup kesadaran diri saja. Tidak ada yang meminta kalian tutup 12 bulan.
Kusutnya masalah ini, kadang yang mengotot sekali justeru sebenarnya beragam Islam. Orang2 yang beragama lain, sudah otomatis menyesuaikan diri. Saya punya banyak teman2 non Islam, saat mereka makan siang, mereka dengan sangat respek minta ijin, bisa menempatkan diri dengan baik. Hampir semua agama itu punya ibadah yang harus dihormati. Di Bali misalnya, saat Nyepi, mau agama apapun, semua orang diminta menghormati Nyepi. Tidak ada alasan: kebebasan, boleh dong saya hura2 saat Nyepi.
Saya tahu, silahkan saja jika kalian tetap punya tapi, tapi dan tapi. Saya hanya mengingatkan: sekali orang2 mulai terbiasa membalik2 logika, dalam urusan ini, hanya soal waktu, besok lusa akan ada yang bilang: adzan di masjid itu mengganggu. Kemudian orang2 akan mengangguk, mengamini, benar juga ya, kenapa harus teriak2 sih adzannya? Kenapa harus pakai speaker? Kan bisa pakai SMS, miskol, dll. Itu pemeluk agama Islam kok bego banget, tidak tahu teknologi.
Saat itu terjadi, maka silahkan tanggung dosanya, wahai kalian, orang2 yang bangga sekali dengan logika hidupnya. Bangga sekali dengan kepintarannya berdebat, kalian --mungkin tanpa menyadarinya-- telah memulai menggelindingkan bola salju agar orang2 lain mulai meninggalkan agamanya.
Terakhir, ada jutaan anak2 kami yang baru belajar puasa ramadhan ini, saat mereka pulang sekolah TK, SD, saat mereka habis2an menahan haus dan lapar, maka jika kalian yang keblinger sekali pintarnya tidak bisa melihat mozaik besar ramadhaperinta lihatlah anak2 ini, mereka sedang berusaha taat melaksanakan perinta agama--bahkan saat mereka belum tahu-menahu. Hormatilah anak2 kami ini. Jangan suruh mereka menghormati orang2 yang tidak berpuasa.
*Tere Darwis Tere Liye
Tentang kebangkitan nasional
EDISI 20 MEI HARI KEBANGKITAN NASIONAL
Supaya kita Melek Sejarah,
Syarikat Islam (SI) VS Boedi Oetomo
1. TUJUAN
SI -> bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya
BO -> bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar BO Pasal 2).
2. SIFAT
SI -> bersifat Nasional untuk seluruh bangsa Indonesia.
BO -> bersifat kesukuan yang sempit, terbatas Jawa-Madura.
3. BAHASA
SI -> berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia
BO -> berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda
4. Sikap terhadap Belanda
SI -> bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda.
BO -> bersifat menggalang kerjasama dengan Belanda, krn sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda.
5. Sikap terhadap Agama
SI -> membela Islam dan membela/memperjuangkan keadilan
BO -> bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkan oleh sejarahwan Hamid algadrie dan DR Radjiman)
6. PERJUANGAN terhadap kemerdekaan
SI -> memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan
BO -> tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telh membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbng kemerdekaan.
7. Korban perjuangan
SI -> anggota SI berdesak-desakan maduk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotamya dibuang ke Digul.
8. Kerakyataan
SI -> bersifat kerakyatan dan kebangsaan.
BO -> bersifat feodal dan keningratan
9. Melawan Arus
SI -> melawan arus penjajahan
BO -> menurut kemauan arus penjajah
10. KELAHIRAN
SI -> Syarikat Islam a.k.a Syarikat Dagang Islam lahir 16 Okt 1905, 3 tahun sblm BO.
BO -> lahir pada 20 Mei tahun 1908.
Hari Kebangkitan Nasional yg sejak tahun 1948 kadung diperingati setiap tgl 20 mei, seharusnya dihapus dan diganti menjadi tgl 16 Oktober.
Tidak ada alasan apapun yg masuk akal dan logis utk menolak hal ini.
Dan seyogyanyalah, di orde reformasi ini sejarah bangsa harus diluruskan.
Fakta-fakta sejarah harus di kritisi dengn jernih agar anak cucu kita kelak bisa mewarisi sejarah yang benar, bukan sejarah yang berisi kebohongan dan kepalsuan.
Koreksi sejarah bangsa oleh Prof. Mansur Suryanegara, Budi Utomo adalah sekumpulan mahasiswa jawa yg ningrat anti nasionalis,menghina islam di media jawa hisworo , dilawan oleh cokro aminoto dg membentuk tentara kanjeng rasul, kalau sampai sekarang bangsa ini masih memperingati 20 Mei sbg hari kebangkitan nasional adalah kesalahan yg harusnya segera disudahi, bagaimana lahirnya budi utomo diperingati sebagai kebangkitan nasional sedangkan dia anti nasionalisme dan menolak konggres pemuda 1928,
Bukti sejarah tak terbantahkan bahwa syarikat islamlah yang pertama kali membangkitkan semangat nasionalisme di konggres SI surabaya 1916,
Cokroaminoto guru para pendiri bangsa
Bangsa kasihan
BANGSA KASIHAN
Karya: Kahlil Gibran,
Turkey - 1912
Kasihan bangsa
yg mengenakan pakaian yg tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yg tidak ia panen,
dan meminum susu yg ia tidak memerasnya.
Kasihan bangsa
yg menjadikan orang dungu sebagai pahlawan
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.
Kasihan bangsa
yg meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya
ketika bangun.
Kasihan bangsa
yg tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan
di atas kuburan,
tidak sesumbar
kecuali di reruntuhan,
dan tidak memberontak
kecuali ketika lehernya sudah berada
di antara pedang dan landasan.
Kasihan bangsa
yg negarawannya serigala,
filosofnya gentong nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.
Kasihan bangsa
yg menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan,
namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain
dengan terompet lagi.
Kasihan bangsa
yg orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu,
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.
Kasihan bangsa
yg terpeccah-pecah,
dan masing-masing pecahan
menganggap dirinya sebagai bangsa.
Kasihan bangsa
Alamnya yg indah,
Sawahnya hijau sepanjang masa
Tapi banyak penjahat dan orang bodoh
Dijadikan pemimpin negara
Kasihan bangsa
Hasil laut, tambang dan hutannya
Seperti sorga di dunia
Tapi banyak rakyatnya menderita
Karena kejujuran dan keadilah telah sirna
Kasihan bangsa
Tempat2 ibadahnvya penuh
Puja dan puji selalu menggema
Tapi para pencuri tertawa-tawa
Karena mereka bebas semaunya.....
Pendidikan untuk orang dewasa
[5/5 09.53] Lendo Novo: Sejak 20 tahun yg lalu kita meyakini bahwa utk membangun generasi emas kita harus memulai dari pendidikan sejak di kandungan. Dan kita semua telah berupaya memulainya, insya Allah ada keberkahan dari apa yg kita perjuangkan. Tapi tunggu dulu, setelah abang perhatikan benar2 isi Al Qur'an dan Hadits Rasulullah Saw beberapa tahun terakhir ini, abang menemukan hampir 90% lebih isinya mengenai pendidikan orang dewasa. Rasulullah Saw membangun kader inti (para sahabat) yg sebagian besar adalah orang2 dewasa (yg paling muda sahabat Ali). Kemudian semua perintah dan peraturan ditujukan kepada orang dewasa. Dan yg hebatnya hanya dalam 23 tahun membina orang dewasa, Rasulullah Saw berhasil mengubah peradaban dunia. Sepertinya teman2 sudah harus banyak belajar pendidikan orang dewasa dan mulailah dgn para ortu murid sebagai ladang dakwah kita, bgm menurut teman2?
[5/5 10.24] Ust Nurul Khamdi: Menurut beberapa ahli siroh nabawiyah, orang arab diberi kesempatan unt. Dididik nabi karena mereka masih memiliki kehanifan yg bersumber kpd. Ajaran nabi ibrohim. Disisi lain bani isroil sdh benar2 menyimpang jauh.
[5/5 10.26] Ust Nurul Khamdi: Tradisi mendidik anak2 unt belajar bersama alam menjadi ciri khas masyarakat ini. Sehingga pendekatan belajar unt. Anak2. Sdh baik tinggal sedikit penyempurnaan.
[5/5 10.28] Ust Nurul Khamdi: Kita melihat keragaman talent dan optimalnya kompetensi sahabat nabi, dan ketika diubah landasannya dg keimanan mk. Peradaban baru terbentuk dg kokoh.
[5/5 10.28] Ust Nurul Khamdi: Hari ini kita menghadapi:
[5/5 10.31] Ust Nurul Khamdi: 1.pembelajaran sekuler unt anak
2 orang tua sekuren
3. Metoda belajar yg tdh sesuai fitroh
Butuh reformasi pendidijan UNTUK ORTU sekaligus UNT ANAK
Sepenggal catatan dari cisadon
Sepenggal Catatan Dari Cisadon
Kami hanya tiga hari tinggal di sini. Namun rasanya, ruh ini telah merekat dan terikat bersama jiwa pribumi yang rendah hati di lembah sunyi yang masih bagian teritorial negeri...
Selamat datang di lembah Cisadon. Lembah yang tenang, jauh dari kebisingan suara klakson. Lembah untuk hidupnya ekosistem yang ramah. Lembah yang mengerti apa arti hidup ini. Sungai, hutan, kabut, angin, langit, dan gunung-gunung yang mengelilinginya menjadi saksi tegas atas sinergi anak manusia yang berkolaborasi bersama alam, atas perjalanan menjalankan garis kehidupannya di ketinggilan 1300 mdpl.
Berawal dari perjalanan peserta Pendidikan Dasar Guru Sekolah Alam (PDGSA) dari 3 sekolah. Sekolah Alam Bogor, Sekolah Alam Bintaro dan Sekolah Alam Ciomas yang salah satu agendanya yakni melakukan live in di Lembah Cisadon. Tak kurang dari 10 Jam bagi kami untuk bisa menempuh perjalanan menuju lembah ini dengan berjalan kaki. Alhamdulillah, Allah SWT telah memberikan kurikulum terbaiknya dalam menempa diri. Kami dihadapkan dengan lumpur yang dalam, hujan yang lebat, serta angin yang sangat kencang. Namun kami yakin semua itu Allah SWT hadirkan dalam perjalanan sebagai tempaan agar kami kuat dan bisa menggapai misi kami yang tak mudah, yakni menyiapkan pemimpin peradaban masa depan. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.
Namun, ada beberapa hal yang setidaknya membuat hati kami terenyuh sedih. Lembah Cisadon menghadirkan 15 anak yang 12 diantaranya tidak bersekolah. Adapun 3 diantaranya yang bersekolah mereka harus melalui jalur yang kami lalui dengan penuh perjuangan. Terbayangkah perjalan itu bagi seorang anak SD yang masuk dipagi hari?
Beruntung! Cisadon memiliki relawan pendidikan bernama Kang Andri yang rela naik turun gunung serta bergerak tanpa pamrih demi masa depan anak-anak disana. Dengan segala keterbatasannya, dia terus berjuang meluangkan waktu dihari Sabtu dan Minggunya untuk membawa mimpi dari anak-anak lembah Cisadon yang orang tuanya mayoritas para petani pemetik kopi. Namun seorang kang Andri masih terlalu kesulitan menghantarkan anak-anak Cisadon untuk meraih bintangnya. Beliau butuh bantuan kita dari segala sisi.
Kita harus bergerak! Itu azzam kami melihat mirisnya ketimpangan pendidikan di negeri ini. Kang Andri yang memiliki background seorang trail running telah menunjukan suatu nilai-nilai penuh makna atas apa yang dilakukannya. Mari bergerak bersama!
Yordan Aulia A. (Pegiat Sekolah Alam dan Pegiat Komunitas Bagikali)
Nurul khamdi
Berikut adalah perintah Qur'an atas kasus sosial unt. Jadi pelajaran dlm rangka membentuk akhlaq.
jika sarjana ilmu sosial melaksanakan pesan quran shg. Memiliki kepekaan sosial yg tinggi insyaAlloh bermanfaat dlm membentuk akhlaq serta mengkritisi perilaku mns. Namun fenomenanya adalah kebanyakan sarjana sosial berhenti di level menghafal isi buku dan tidak mampu menelaah isi apalagi konteks kekiniannya. Ilmu ushul figh dan figh (ibadah, dakwah, tarbiah) termasuk ilmu sosial yg memudahkan kita dlm mengamalkan quran dan sunnah. Jika kita dalami lagi ilmu sosial hari ini tercemar dg nilai2 yg bertentangan dg quran dan sunnah sehingga hanya mereka yg filternya baik yg mampu terlepas dari polutan tsb. Jadi Ahli ilmu sosial yg islami dibutuhkan SA
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: Matilah kamu, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.
Surah Al-Baqarah (2:243)
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?
Surah Al-Fil (105:1)
Perangkat sekolah alam
PERANGKAT SEKOLAH ALAM.
Berdasarkan pengalaman kami sebagai orang tua siswa, manajemen, kepala sekolah, kaderisasi dan konsultan sekolahalam, kami menyimpulkan ada beberapa perangkat yg diperlukan untuk menyelenggarakan sekolahalam. Perangkat perangkat dimaksud dapat diklasifikasi ke dalam beberapa katagori, Perangkat Dasar (PD), Perangkat Operasional (PO), Perangkat Pendukung (PP), Perangkat Manusia (PM), Perangkat Fisik (PF) dan Perangkat Lunak (PL).
Perangkat perangkat dimaksud antara lain:
1. Prinsip Pendidikan Akhlak. (PD, PL)
2. Strategi Pengajaran al Qur'an dan as Sunnah (PD, PL)
3. Bahasa Ibu (PD, PL)
4. Talents Mapping (PD, PL)
5. Program TAD, Teacher As Desainer (PD, PL)
6. Program BBA, Belajar Bersama Alam (PO, PL)
7. Program DIY, Do It Yourself (PO PL)
8. Yayasan (Payung Hukum) (PP, PM, PL)
9. Prinsipal / Direktur Sekolah (PO, PM)
10. TIM Administratur (PO, PM)
11. TIM GA/Urusan Umum; Kerumahtanggaan, Kebersihan, Keamanan (PO, PM)
12. TIM Fasilitor KBM, termasuk shadow teachers (PO, PM)
13. GreenLab (PP, PF)
14. Perpustakaan / Bengkel Baca & Bengkel Tulis (PD, PF)
15. PC Server, Wi Fi (PP, PF)
16. Ruang Guru, Siswa, Admin dsb (PP, PF)
17. Buku Induk (PP, PF)
18. Rencana KBM (PP, PF)
19. Berita Acara KBM (PP, PF)
20. Portofolio Siswa (PP, PF)
21. Buku Penghubung (PP, PF)
22, Kios Retail (PP, PF)
23. Bio & Eco Tech Lab (PP, PF)
24. BMT (PP, PF)
25. Nota Kesepahaman Pendidikan Anak (PP, PF)
26. Nota Kesepahaman Fasilitator Pendidikan (PP, PF)
27. Komunitas Pendidikan (PD, PM)
28. Nota Kesepahaman Komunitas (PP, PF)
29. Studio Audio Visial (PP, PF)
30. Desain Lansekap (PD, PL)
31. Bengkel DIY (PD, PF)
32. Sistem Informasi Manajemen Sekolah (PP, PL)
33. Knowledge Management (PP, PL)
34. Psikolog Tumbuh Kembang (PP, PM)
35. Rencana Anggaran (PP, PL)
36. Program Outbound (PD, PL)
37. Outbound Equipment (PP, PF).
38. Dasar-dasar Leadership dan Manajemen sekolah (baru kami kembangkan bersama BMM saat pelatihan di SARI) (PD, PL)
39. ...
Namun untuk startup atau memulai penyelenggaraan sekolahalam tidak harus seluruh perangkat di atas tersedia terlebih dahulu cukup beberapa perangkat yg bisa dikatagorikan sebagai PERANGKAT INTI yaitu.
1. Komunitas Pendidikan
2. Yayasan (tidak mutlak)
3. Fasilitaor KBM.
4. Bahasa Ibu.
5. Program BBA
6. Program Outbount
7. Program DIY
8. Buku Induk.
9. Buku Penghubung
10. Rencana KBM
11. Berita Acara KBM
12. Rencana Anggara (tidak mutlak)
13. Desain Lansekap (tidak mutlak)
14. Outbound Equipment (bisa digunakan bersama / sewa).
15. Dasar-dasar Leadership dan Manajemen sekolah
Note: Outbound bisa out sourcing.
#sekedarsharing
Ferous
Tentang sebuah buku di hari buku
TENTANG SEBUAH BUKU DI HARI BUKU SEDUNIA
Tahukah Anda buku terbaik di dunia? Jika berkenan, mohon luangkan waktu Anda untuk membaca catatan saya yang agak panjang ini.
Hari ini, 23 April, diperingati sebagai hari buku sedunia. Banyak orang tiba-tiba ramai membicarakan buku. Beberapa di antara teman-teman saya bahkan membuat daftar: Buku terbaik sepanjang masa, buku favorit yang pernah mereka baca, buku yang paling memengaruhi kehidupan mereka, dan seterusnya.
Hari ini, banyak orang membicarakan buku. Mereka mengunggah sampul buku favorit mereka dan menjadikannya gambar profil. Beberapa dari mereka menulis status berisi kutipan dari buku-buku yang pernah mereka baca, dari pengarang-pengarang terbaik yang paling mereka kagumi. Sementara beberapa yang lain membuat semacam resolusi bahwa tahun ini akan membaca lebih banyak buku dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun, di tengah berbagai judul buku yang dibicarakan, ada satu buku yang tampaknya luput dari perhatian. Buku yang di antara jutaan buku-buku lainnya seringkali dibiarkan kesepian di sudut-sudut rak perpustakaan… Buku yang di beberapa rumah dibiarkan berdebu… Buku yang beberapa orang merasa malu untuk mengutip tulisan-tulisan di dalamnya… Buku yang sering dianggap sebagai ‘bukan buku’ sehingga banyak orang enggan membaca aneka pelajaran dan kisah-kisah yang terkandung di dalamnya.
Buku itu bernama Al-Quran Al-Karim.
Dengan berbagai alasan, beberapa orang enggan menyebut dan menganggapnya sebagai buku, karena katanya ia adalah ‘kitab suci’. Menurut mereka, ia berbeda dengan buku biasa, ia adalah buku yang paling istimewa! Hey, bukankah buku yang paling istimewa pun tetap merupakan sebuah buku? Allah sendiri dalam Al-Quran bahkan menyebutnya sebagai ‘buku’ (dalam bahasa Arab, ‘kitab’)… kitab yang tak ada sedikitpun keraguan di dalamnya.
Khaled Abou el-Fadl dalam bukunya yang berjudul ‘A Conference of the Books: The Search of Beauty in Islam’ (2005) menyebut Al-Quran sebagai buku yang paling menginspirasi lahirnya jutaan buku lain setelahnya. Bagi El-Fadl, jika saja bisa terselenggara sebuah musyawarah buku, maka Al-Quran akan selalu menjadi pembicara utama yang bisa menjawab sekaligus memberi rujukan bagi berbagai persoalan yang diajukan… Ia akan menjadi titik pusat bagi jutaan bahkan miliaran buku lain yang terus-menerus bertawaf mengelilinginya.
Saya ingat sebuah cerpen dari Jorge Luis Borges yang menceritakan seorang pustkawan buta yang menjaga sebuah labirin perpustakaan raksasa. Dikisahkan suatu hari ia didatangi seorang pemuda yang mencari buku terbaik yang ada di perpustakaan itu, buku yang jika dibaca dengan baik maka akan bisa menyelesaikan seluruh persoalan hidup manusia.
“Ya, kau benar… Konon ada sebuah buku di dalam perpustakaan ini,” kata si pustakawan buta kepada sang pemuda. “Akupun terus mencarinya. Aku sudah menghabiskan seluruh hidupku untuk membaca seluruh buku yang ada di perpustakaan ini, membaca semuanya satu persatu hingga mataku menjadi buta, tetapi sayangnya aku belum berhasil menemukan buku itu…”
Hingga akhir cerita, Borges tidak mengatakan buku apa yang disebut sebagai buku terbaik yang bisa menyelesaikan seluruh persoalan umat manusia itu. Namun sang pemuda dan pustakwan buta terus mencarinya, terus mencarinya…
Ketika membaca cerpen itu, pikiran saya bertanya-tanya: Mungkinkah buku itu adalah Al-Quran?
***
Hari ini adalah hari buku sedunia. Saya merasa saya terlalu lama melupakan dan bahkan mencampakkan sebuah buku yang paling penting dan utama. Buku itu bernama Al-Quran Al-Karim.
Suatu hari saya menonton sebuah film tentang Yusuf (Joseph) yang diadaptasi dari kitab suci agama lain. Hingga film itu selesai, saya menggerutu: Film ini ngawur! Kisah Yusuf AS yang benar yang digambarkan Al-Quran bukan seperti itu! Tapi kemudian saya bertanya pada diri sendiri: Lalu, seperti apa kisah yang benar? Seperti apa Yusuf AS yang digambarkan Al-Quran?
Kemudian saya bergegas mencari Al-Quran saya, membersihkannya dari debu-debu. Lalu membaca dengan saksama kisah Yusuf AS di dalamnya. Di sana saya menyadari betapa indah buku yang sedang saya baca itu, saya takjub betapa hebat Al-Quran dalam menceritakan sesuatu… Sayangnya, mengapa selama ini saya tak mendekati Al-Quran sebagai sebuah buku? Pernahkah saya membaca Al-Quran, misalnya edisi terjemahan Bahasa Indonesianya, dari awal hingga akhir, dan menikmatinya sebagaimana saya membaca sebuah buku?
Saya jadi berpikir, bagaimana saya bisa memahami Al-Quran jika selama ini Al-Quran dibaca sepotong-sepotong? Satu ayat, satu ‘ain, satu lembar, satu surat, satu juz, dan seterusnya. Bagaimana saya bisa memahaminya jika saya membacanya sambil terburu-buru—hanya untuk menuntaskan target khataman atau mengejar setoran bacaan? Tetapi, yang paling mengguncangkan saya adalah mengapa sulit sekali saya meluangkan waktu untuk membacanya?
Saya jadi ingat nasihat guru saya, katanya, “Para Sahabat Nabi mengkhatamkan Al-Quran sekali setiap hari. Tetapi jika kau tak sanggup, bacalah al-Quran satu juz setiap hari.”
Saya bertanya pada guru saya waktu itu, “Jika tetap tidak bisa?”
“Bacalah satu surat setiap hari.” Jawabnya.
“Jika saya tak punya waktu, Guru?”
“Bacalah satu lembar setiap hari.”
“Jika tidak sempat?”
“Bacalah satu ‘ain setiap hari.”
Saya terdiam. “Jika saya begitu sibuk dan tak bisa membaca satu ‘ain setiap hari?”
Guru saya tersenyum, “Bacalah satu ayat setiap hari.”
Saya merasa gusar, lalu mengemukakan sebuah pertanyaan, “Guru, bagaimana jika saya tak bisa membaca Al-Quran?”
Guru saya tersenyum, “Pandanglah Al-Quran itu baik-baik, lalu tanyakanlah kepadanya, ‘Wahai Al-Quran, mengapa aku tak bisa membaca engkau?’
Mengapa aku tak bisa membaca engkau?
Selamat hari buku sedunia!
Melbourne, 23 April 2015
FAHD PAHDEPIE
A story from jordan
A Story from Jordan
pohon SAHABI ... yang merupakan saksi kenabian Rosullullah....
Pohon Sahabi yang menjadi saksi bisu pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Biarawan Kristen bernama Bahira (Arab: Buhaira) ... telah ditemukan kembali oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dan otoritas pemerintahan Yordania. Ketika memeriksa arsip negara di Royal Archives
Mereka menemukan referensi dari teks-teks kuno yang menyebutkan bahwa Pohon Sahabi berada di wilayah padang pasir di utara Yordania.
Setelah 1400 tahun berlalu, pohon ini ditemukan masih hidup dan tetap tumbuh kokoh di tengah ganasnya gurun Yordania.
Bersama beberapa ulama terkenal termasuk Syekh Ahmad Hassoun, Mufti Besar Suriah, Pangeran Ghazi mengadakan pengamatan dan ternyata benar bhw pohon tua itulah yang disebutkan dalam catatan biarawan Bahira.
Kini Pohon tersebut dilestarikan oleh pemerintah Yordania dan dipantau secara rutin keberadaannya.
Keberadaan pohon ini memang cukup unik dan dinilai tidak cocok tumbuh di lingkungan sekitarnya.
Pasalnya lingkungan sekitar pohon itu, merupakan tanah kering dan sangat gersang, sementara pohon Sahabi menjadi satu-satunya pohon yang tumbuh subur dengan daun yang rimbun.
Kondisi ini menentang kegersangan dan ketiadaan warna dari lingkungan di sekitar pohon. Meskipun kekuatan matahari di tengah gurun sangat terik, namun akan terasa teduh ketika berada di bawah pohon ini.
Tiga manuskrip kuno yang ditulis oleh Ibn Hisham, Ibn Sa'd al-Baghdadi, dan Muhammad Ibn Jarir al-Tabari menceritakan tentang kisah Bahira yang bertemu dengan bocah kecil calon Rasul terakhir.
Saat itu Muhammad SAW baru berusia 9 atau 12 tahun. Ia menyertai pamannya Abu Thalib dalam perjalanan untuk berdagang ke Suriah.
Pada suatu hari, Biarawan Bahira mendapat firasat, kalau ia akan bertemu dengan Sang Nabi terakhir.. tiba tiba ia melihat rombongan kafilah pedagang Arab, dan melihat pemuda kecil yang memiliki ciri-ciri sesuai yang digambarkan dalam kitabnya.
Kemudian Bahira mengundang kafilah tersebut dalam sebuah perjamuan.
Semua anggota kafilah menghadiri kecuali anak yang Ia tunggu-tunggu. Ternyata, Muhammad SAW kecil sedang menunggu di bawah pohon untuk menjaga unta-unta.
Bahira keluar mencarinya dan ia sangat takjub menyaksikan cabang-cabang pohon Sahabi merunduk melindungi sang pemuda dari terik Matahari. Dan segumpal awan pun ikut memayungi ke manapun Ia pergi.
Bahira pun meminta agar bocah kecil tersebut diajak serta berteduh dan bersantap dalam perjamuan.
Dia pun segera meneliti dan menanyai pemuda kecil ini. dan menyimpulkan bahwa Dia adalah utusan terakhir yang dijelaskan dalam Al Kitab.
Bahira pun meyakinkan paman anak itu yakni Abu Thalib untuk kembali ke Makkah, karena orang-orang Yahudi tengah mencari Muhammad SAW kecil untuk membunuhnya .
Setelah berselang 1400 tahun kemudian, pohon yang pernah meneduhi Muhammad SAW itu masih berdiri tegak dan menjadi satu-satunya pohon yang berhasil hidup di tengah padang pasir yang sangat gersang, menjadi saksi sejarah ttg kenabian Muhammad SAW.
Pohon ini secara ajaib diawetkan oleh Alloh SWT untuk waktu yang panjang dan siapa pun masih bisa menyentuh dan berlindung di bawah cabangnya yang senantiasa rimbun.
Kisah secangkir kopi
Sebuah narasi kecil di pagi nan suci. KISAH SECANGKIR KOPI
Suatu hari di sebuah universitas terkenal. Sekelompok alumnus bertamu di rumah dosen senior, setelah bertahun-tahun mereka lulus. Setelah mereka semua menggapai kesuksesan, kedudukan yang tinggi serta kemapanan ekonomi dan sosial.
Setelah saling menyapa dan berbasa basi, masing-masing mereka mulai mengeluhkan pekerjaannya. Jadwal yang begitu padat, tugas yang menumpuk dan banyak beban lainnya yang seringkali membuat mereka stress.
Sejenak sang dosen masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, beliau keluar sambil membawa nampan di atasnya teko besar berisikan kopi dan berbagai jenis cangkir.
Ada cangkir-cangkir keramik tiongkok yang mewah. Cangkir-cangkir kristal. Cangkir-cangkir melamin. Dan cangkir-cangkir plastik. Sebagian cangkir tersebut luar biasa indahnya. Ukirannya, warnanya dan harganya yang waahh. Namun ada juga cangkir plastik yang biasanya berada di rumah orang-orang yang amat miskin.
Sang dosen berkata, “Silahkan.. masing-masing menuangkan kopinya sendiri”.
Setelah setiap mahasiswa memegang cangkirnya, sang dosen berkata,
“Tidakkah kalian perhatikan bahwa hanya cangkir-cangkir mewah saja yang kalian pilih? Kalian enggan mengambil cangkir-cangkir yang biasa?
Manusiawi sebenarnya, saat masing-masing dari kalian berusaha mendapatkan yang paling istimewa. Namun seringkali itulah yang membuat kalian menjadi gelisah dan stress.
Sejatinya yang kalian butuhkan adalah kopi, bukan cangkirnya.
Akan tetapi kalian tergiur dengan cangkir-cangkir yang mewah. Terus perhatikanlah, setelah masing-masing kalian memegang cangkir tersebut, kalian akan terus berusaha mencermati cangkir yang dipegang orang lain!.
Andaikan kehidupan adalah kopi, maka pekerjaan, harta dan kedudukan sosial adalah cangkir-cangkirnya.
Jadi, hal-hal itu hanyalah perkakas yang membungkus kehidupan. Adapun kehidupan (kopi) itu sendiri, ya tetap itu-itu saja, tidak berubah.
Saat konsentrasi kita tersedot kepada cangkir, maka saat itu pula kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kopi.
Karena itu kunasehatkan pada kalian, jangan terlalu memperhatikan cangkir, akan tetapi nikmatilah kopinya…”.
Sejatinya, inilah penyakit yang diderita manusia. Banyak orang yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang ia miliki, setinggi apapun kesuksesannya. Sebab ia selalu membandingkannya dengan apa yang dimiliki orang lain.
Setelah menikah dengan seorang wanita cantik yang berakhlak mulia, ia selalu berfikir bahwa orang lain menikah dengan wanita yang lebih istimewa dari istrinya.
Sudah tinggal di rumah sendiri, namun selalu membayangkan bahwa orang lain rumahnya lebih mewah dari rumah sendiri.
Ia bukannya menikmati kehidupannya beserta istri dan anak-anaknya. Tapi justru selalu memikirkan apa yang dimiliki orang lain, seraya berkata, “Aku belum punya apa yang mereka punya”.
📚Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,
"مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ؛ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا"
"Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu; seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya". (HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh al-Albani).
✒Seorang bijak berpetuah,
“Alangkah anehnya kebanyakan manusia! Mereka korbankan kesehatan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Setelah terkumpul, gantian mereka gunakan harta tersebut untuk mengembalikan kesehatannya yang telah hilang!
Mereka selalu gelisah memikirkan masa depan, namun melupakan hari ini. Akibatnya, mereka tidak menikmati hari ini dan tidak pula hidup di masa datang.
Mereka senantiasa melihat apa yang dimiliki orang lain, namun tidak pernah melihat apa yang dimilikinya sendiri. Akibatnya, ia tidak bisa meraih apa yang dimiliki orang lain dan tidak pula bisa menikmati milik sendiri.
Mereka diciptakan untuk satu tujuan, yakni beribadah. Dunia diciptakan untuk mereka gunakan sebagai sarana beribadah. Namun justru sarana tersebut malah melalaikan mereka dari tujuan utama”.
Filosofi alat tentang keikhlasan
🔆 Filosofi Akar tentang Keikhlasan🔆
Myra safar
Jadilah seperti akar...
Yang bekerja dalam sunyi dan diam tanpa suara, tak gaduh melakukan kewajibannya menjadi kontributor utama kehidupan baru sebuah pohon.
Belajarlah dari akar...
Yang tetap bekerja walau tak dipandang mata, yang tetap berbuat walau ditengah sepi. Karena ikhlasnya akar adalah sebenar-benarnya pembelajaran.
Tersebab karena akarlah...
Yang ketika pohon yang menjulang tinggi itu tetap gagah dan kokoh berdiri ditempatnya setelah diterpa badai dan angin yang bertiup dengan kencangnya.
Dialah akar...
Yang ketika hasil kerjanya sudah mulai tampak dihijaunya daun; kuatnya batang dan ranting serta matang ranumnya buah, tidak kemudian menjadikannya sombong jumawa lantas sesumbar mengaku "itu semua adalah hasil kerja ku!!"
Akar juga memaklumi...
Bahwa ia tak mungkin berbuat semuanya sendiri, sehingga ia menerima uluran tangan matahari dan banyak berterima kasih kepada hujan yang menyiramsuburkan tanah dengan curahan airnya.
Berbuatlah seperti akar...
Yang kelak tetap semangat bekerja tak hentinya, ketika musim dan cuaca mulai menggugurkan daunnya; melapukkan batang dan rantingnya serta manusia mulai memetik habis buahnya.
Dan akarpun menyadari...
Bahwa ialah juga serupa mahluk lainnya yang tunduk pada kuasa Sang Pencipta yang ketika berkehendak terhadapnya melalui perantara waktu, maka setelah menuntaskan kewajibannya rela kembali keharibaan-Nya.
Tabayyun
SYARIAT TABYYUN / TATSABBUT.
Allah mewajibkan at-Tabayyun atau at-Tatsabbut (mencari kejelasan faktual atas suatu berita) QS. 4 ayat 94.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. QS 49 ayat 6.
SYARIAT TABYYUN / TATSABBUT.
Allah mewajibkan at-Tabayyun atau at-Tatsabbut (mencari kejelasan faktual atas suatu berita) QS. 4 ayat 94. dan QS 49 ayat 6.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ كَذَٰلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. 4 ayat 94
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. QS 49 ayat 6.
Saya anti demokrasi
Saya Anti Demokrasi
Oleh: Emha Ainun Nadjib
Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam – harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.
Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein banyak salah, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.
“Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaimana yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.
Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam.
Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlege dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.
Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur’an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.
Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: “Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis ‘gitu…”
Lho kok Arab bukan etnis?
Bukan..., nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.
Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah “Yarim Wadi-sakib…”, itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.
Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhon kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.
“Al-Islamu mahjubun bil-muslimin“. Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.
Endapan-endapan dalam kalbu kolektif ummat Islam itu, kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor – maka akan meledak. Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera merevisi metoda dan strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan ‘sidang pleno’ yang transparan, berhati jernih dan berfikiran adil.
Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan.
Sumber:
Buku Emha http://www.goodreads.com/book/show/1380373.Iblis_Nusantara_Dajjal_Dunia
renungan pendidikan
Kearifan lokal
Semua tradisi & budaya lokal yg bertentangan dgn syariah Islam (مُنْكَرُ) tidak bisa dikatagorikan sebagai kearifan (عُرْفٌ) dan pelakunya tak dapat disebut 'aarif (ٌعَارِف). Syarat suatu tradisi atau budaya dikatagorikan sebagai kearifan adalah sesuai, diakui atau dikenal syariat (مَعْرُوفٌ).
So... pelajari semua tradisi atau budaya lokal, lalu timbang dgn syariah. Yang sesuai syariah itulah KEARIFAN LOKAL (اَلْعُرْفُ اَلْمَحَلِّيُ). Dan dalam Islam ada kaedah fikih اَلْعُرْفُ مُحَكَّمَةٌ /al'urf muhakkamah/ artinya, kearifan (lokal) dapat dijadikan dasar hukum untuk mengukur baik atau buruk akhlak seseorang.
Why asians are less creative
University of Queensland, dlm bukunya "Why Asians Are Less Creative Than Westerners" (2001) yg dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi "best seller". mengemukakan bbrp hal ttg bangsa2 Asia yg telah membuka mata & pikiran banyak orang:
1. Bagi kebanyakan org Asia, dlm budaya mereka, ukuran sukses dlm hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang & harta lain). Passion (rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bs lbh cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.
2. Bagi org Asia, banyaknya kekayaan yg dimiliki lbh dihargai drpd CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak krn beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/ diterima sbg sesuatu yg wajar.
3. Bagi org Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus2 Imu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan utk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.
4. Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none (tahu sedikit sedikit ttg banyak hal tapi tidak menguasai apapun).
5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dlm Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada org Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yg berbasis inovasi dan kreativitas.
6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibat- nya sifat eksploratif sbg upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.
7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah
8. Karena takut salah & takut dianggap bodoh, di sekolah atau dlm seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi stlh sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber utk minta penjelasan tambahan.
Dlm bukunya Prof. Aik Kwang menawarkan bbrp solusi sbb:
1. Hargai proses. Hargailah org krn pengabdiannya bkn krn kekayaannya. Percuma bangga naik haji atau membangun mesjid atau pesantren tapi duitnya dari hasil korupsi
2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya
3. Jangan jejali murid dgn banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar2 dikuasainya
4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bkn memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yg lbh cepat menghasilkan uang
5. Dasar kreativitas adlh rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!
6. Guru adlh fasilitator, bkn dewa yg hrs tahu segalanya. Mari akui dg bangga kalau KITA TDK TAU !
7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan, sbg org tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya & mensupportnya.
Mdh2an dg bgt, anak2 & cucu kits bs kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas & idealisme tinggi tanpa korupsi.
Zakat
Ustadz, Kholifah Abu bakar seorang yg terkenal kelembutan hatinya. Apa yg melatarbelakangi beliau memerangi mereka yg tdk membayar zakat? Padahal tdk membayar zakat tdk bisa dijatuhi hukum boleh dibunuh.
Zakat merupakan rukun Islam yg memiliki kekhasasan berupa adanya hak mustahiq di dalamnya.
Abu Bakr ash Shiddieq ra. mengatakan seandainya ketika Nabi saw hidup mereka membayar zakat berupa tali kekang unta sekalipun lalu setelah beliau wafat mereka tidak mau membayarnya lagi maka akan diperangi oleh beliau. Hal ini disebabkan 2 hal:
1. Sikap menolak syariat zakat merusak rukun Islam maka rusak pula keislaman yg menolaknya.
2. Kewajiban pemimpin untuk menegakkan keadilan membela mustahiq.
Awalnya beberapa shahabat ada yg tdk setuju dgn sikap Abu Bakar ash Shiddieq ra. Namun setelah mendengar penjelasan beliau mereka semua sepakat (ijma').
Ijma' shahabat merupakan sumber hukum ke 3 setelah al-Qur'an dan as-Sunnah sehingga ulama fiqih meng-istinbath (menggali nilai / bobot) dari ijma' tersebut sedemikian rupa sehingga mereka menetapkan norma hukum atas orang yg menolak syariat (bukan sekedar tidak mau membayar) zakat boleh diperangi oleh pemimpin ummat (uli al amri) bahkan jika penolakan tersebut merupakan gerakan yg menimbulkan fitnah syariat, bukan sekedar fitnah bagi mustahiq maka memerangi yg menolak syariat zakat hukumnya wajib.
Demikian.
Wallahu a'lam bishshawaab.
Berbagi faedah
Berbagi Faidah
Bismillah was sholatu was salaamu 'alaa Rasuulillah
"Buang-buang waktu saja..!"
"Cuma anak kecil...!"
Ucapan yang senada, baik hanya sekedar betikan hati atau terlafadz oleh lisan, bagi sebagian orang adalah hal yang lumrah.
Pikirnya, ngapain sih ngurusin anak orang orang? Emang siapa dia? Apa urusanku dengan anak kecil?
☝✨Ikhwatii fillah, Rasululullah adalah semulia-mulia makhluk telah mengajarkan kepada kita bagaimana memperlakukan anak kecil.
Anas bin Malik, bahwa Rasulullah pernah suatu ketika mendapati seorang anak kecil yang bernama Abu Umair yang baru disapih sedang menangis.
Burung (Nughair) yang menjadi teman mainnya telah tiada.
Sedih dan pilu. Tak kuasa berbuat apa-apa. Air mata pun meleleh tanda hati tengah berduka.
☝Rasulullah pun mencandai Abu Umair, "Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan Nughair?"
(HR. Bukhari dan Muslim).
✋Ikhwatii fillah, itulah Rasulullah. Menghibur anak yang sedang bersedih.
Tidak dibiarkan begitu saja.
⛅Anas bin Malik mengisahkan pula jika ada seorang budak wanita kecil meraih tangan Rasulullah, maka beliau pun menyambutnya.
Dan budak kecil tersebut bisa membawa Rasulullah kemana pun sesukanya.
(HR. Bukhari-Muslim).
Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan hadits di atas bahwa Rasulullah tidak berkata:
'Mau kemana aku dibawa?'
atau berkata:
'Pergilah dengan yang lain !'.
Akan tetapi beliau mengiringi budak kecil itu memenuhi keinginannya.
(Syarah Riyadhush Shalihin 2/324).
Ikhwatii fillah,
Rasulullah ketika melewati anak-anak kecil tidak melewatinya begitu saja.
Anas ibn Malik mengkabarkan pula kepada kita bahwa Rasulullah jika melewati anak-anak yang sedang bermain, beliau pun menyalami mereka.
(HR. Muslim).
Dalam riwayat lain yang dishahihkan Syaikh al Albani, Anas bin Malik berkata: Rasulullah suatu ketika melintasi kami, dan kami saat itu masih kecil. Beliau pun salam: "Assalamu'alaikum wahai anak-anak..!"
(Ash Shahihah 290).
Demikianlah petikan akhlak Rasulullah kepada anak-anak.
✋Semoga bermanfaat bagi penulis sendiri dan kaum muslimin.
Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya.
Karena Anas berkata:
"Rasulullah adalah orang yang paling penyayang terhadap keluarga dan anak-anak"
(Ash Shahihah 2089).
Share dari
WA Sedikit Faidah Saja
Hadits-hadits dinukil dari kitab Quthuf min Syamail Muhammadiyah karya Syaikh Jamil Zainu dan sumber lainnya.
Sedikit tambahan
Diriwayatkan bahwa anak2 kecil Madinah terbiasa menanti kedatangan Rasululloh dari safar di perbatasan kota.
Karena ketika Nabi datang, maka beliau akan menggilir anak2 kecil itu utk diboncengkan di kendaraan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam...
# Mulai dari diri sendiri
S'moga Hari ini dan Esok Lebih Baik
Taabbur
TADABBUR
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. QS. 3:159
____________
Lembut, Maaf dan Istighfar thd saudara seiman adalah dasar MUSYAWARAH. Adapaun tawakkal menjadi landasan pengambilan kebijakan.
هذا. و الله أعلم بالصواب.
Kisah seorang ayah bersama anaknya
Kisah seorang Ayah bersama Anaknya
Seorang ayah ingin mengajarkan kepada anaknya sejak dini, ia baru duduk dikelas 3 SD. untuk mengatur uang jajannya...
Sang anak diberi uang Rp. 30.000 perminggu (termasuk ongkos ojek). Biasanya uang tersebut diberikan sang ayah sehari sebelum anaknya masuk sekolah...
Pada minggu pagi mereka berdua hendak jalan-jalan ke kota untuk menikmati liburan. Sebelum berangkat., tak lupa sang ayah memberikan uang jajan mingguan anaknya dengan tiga lembar uang Rp 10.000. Dan uang tersebut disimpan rapi dalam saku celananya...
Ditengah keasyikan sang ayah dan anaknya menikmati hari libur mereka.., tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang kakek pengemis yang telah tua renta sambil memelas...
Tak tega melihat sang kakek tua yang memelas itu., sang anak dengan sigap langsung mengeluarkan 3 lembar uang 10.000,- dari saku celana dan diberikan seluruhnya...
Kontan saja kakek pengemis ini terlihat sangat senang seraya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak terkira kepada sang anak dan ayahnya ini...
Setelah si kakek tua berlalu.., Sang ayah bertanya;
“Sayang.., kenapa kamu berikan semua uangmu untuk kakek itu..??? Bukankah satu lembar saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hingga nanti malam..???”
“Ayaaah.. kalau kakek tua itu ikhlas menerima yang sedikit, maka aku ikhlas untuk memberikan yang lebih besar.!” Jawab anaknya dengan wajah tersenyum...
“Tek..!!!” Hati sang ayah langsung tersentak kaget mendengar jawaban tersebut.
“Nah..! terus uang jajanmu untuk seminggu ke depan bagaimana..?” Tanya sang ayah mencoba mengujinya.
“Kan aku kan masih punya ayah dan bunda..!!!
Tidak seperti kakek tua itu yang mungkin hanya hidup sebatangkara di dunia ini..!” Balas anaknya...
“Kenapa kamu begitu yakin kalau ayah dan bunda akan mengganti uang jajanmu..? Ayah nggak janji loh..!?” Kembali sang ayah mengujinya...
“Kalau ayah merasa bahwa aku adalah amanah dari Tuhan yang dititipkan kepada ayah dan bunda.., maka aku sangat yakin ayah dan bunda tak akan membiarkan aku kelaparan seperti kakek tua itu...” Jawab sang anak mantap...
Seakan sang ayah tak percaya dengan jawaban dari putranya hingga ia kehabisan kata-kata... Ia tak menyangka jawaban seperti itu keluar dari seorang bocah kelas 3 SD. Ia seperti sedang berhadapan dengan seorang petuah besar dan ia tak bernilai apa-apa ketika berada dihadapannya..!
Lalu... ia berjongkok dan memegang kedua pundak buah hatinya itu...
“Sayang… ayah dan bunda janji akan selalu menjaga dan merawatmu hingga Tuhan tetapkan batas umur ini... Ayah sangat sayang padamu naak..” Sambil kedua matanya berkaca-kaca seolah tak kuat menahan haru...
Sambil memegang kedua pipi ayahnya, sang anak pun membalas,
“Ayah tak perlu berkata seperti itu... Sejak dulu aku sudah tahu bahwa ayah dan bunda sangat mencintai dan menyayangiku..!
Kelak jika aku sudah dewasa aku akan selalu menjaga ayah dan bunda..! Dan aku tidak akan membiarkan ayah dan bunda hidup dijalanan seperti kakek tua itu..!!!”
Dan airmata sang ayah pun tak terbendung mendengar jawaban tulus dari anaknya itu... Dipeluklah tubuh mungil itu dengan sangat erat...
Dan keduanya larut dalam haru dan kasih sayang...
❤Kapankah kurikulum keluarga kita bisa menghasilkan mental anak yang seperti ini? ???
Semoga kita terinspirasi dari cuplikan kisah ini, dan bermanfaat bagi kita sekalian... Amiin
untuk melipat gandakan hikmah dan manfaatnya, dipersilahkan membagi dengan saudara dan teman teman lainnya.
Bahagianya aku andai kau jadi temanku
Dr Ust Eka Herdiana :
بسم الله الرحمن الرحيم
Embun Pagi...
BAHAGIANYA AKU ANDAI KAU JADI TEMANKU
Imam Syafi'i berkata:
"Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dlm rangka ketaatan kepada Allah- maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman -baik- itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali"
Sahabat fillah luangkanlah waktu sejenak untuk membaca hadits yg mulia berikut ini....!!!
Diriwayatkan bahwa :
Apabila penghuni Syurga telah masuk ke dalam Syurga, lalu mereka tidak menemukan Sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia.
Mereka bertanya tentang Sahabat mereka kepada اللّهُ سبحانه و تعالى ..
"Yaa Rabb...
Kami tidak melihat Sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami...??
"Maka اللّهُ سبحانه و تعالى berfirman:
"Pergilah ke neraka, lalu keluarkan Sahabat-sahabatmu yg di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar zarrah."
(HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd").
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
"Perbanyaklah Sahabat-sahabat mu'minmu, karena mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat".
Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat2nya sambil menangis:
"Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada اللّهُ تعالى tentang aku:
"Wahai Rabb Kami...
Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU..
Maka masukkanlah dia bersama kami di Syurga-Mu"
Sahabat fillah
Mudah-mudahan dengan ini, aku telah Mengingatkanmu tentang اللّهُ تعالى ..
Agar aku dapat besertamu kelak di Syurga & Ridho-Nya..
Yaa Rabb...
ْAku Memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah kepadaku
Sahabat-sahabat yang selalu mengajakku untuk Tunduk Patuh & Taat Kepada Syariat-Mu..
Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di Akhirat dengan-Mu...
آمِيْن يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ
Remaja
Qaulan Sadiidaa untuk Anak Kita
Oleh: Salim A. Fillah
Remaja. Pernah saya menelusur, adakah kata itu dalam peristilahan agama kita?
Ternyata jawabnya tidak. Kita selama ini menggunakan istilah ‘remaja’ untuk menandai suatu masa dalam perkembangan manusia. Di sana terjadi guncangan, pencarian jatidiri, dan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Terhadap masa-masa itu, orang memberi permakluman atas berbagai perilaku sang remaja. Kata kita, “Wajar lah masih remaja!”
Jika tak berkait dengan taklif agama, mungkin permakluman itu tak jadi perkara. Masalahnya, bukankah ‘aqil dan baligh menandai batas sempurna antara seorang anak yang belum ditulis ‘amal dosanya dengan orang dewasa yang punya tanggungjawab terhadap perintah dan larangan, juga wajib, mubah, dan haram? Batas itu tidak memberi waktu peralihan, apalagi berlama-lama dengan manisnya istilah remaja. Begitu penanda baligh muncul, maka dia bertanggungjawab penuh atas segala perbuatannya; ‘amal shalihnya berpahala, ‘amal salahnya berdosa.
Isma’il ‘alaihissalaam, adalah sebuah gambaran bagi kita tentang sosok generasi pelanjut yang berbakti, shalih, taat kepada Allah dan memenuhi tanggungjawab penuh sebagai seorang yang dewasa sejak balighnya. Masa remaja dalam artian terguncang, mencoba itu-ini mencari jati diri, dan masa peralihan yang perlu banyak permakluman tak pernah dialaminya. Ia teguh, kokoh, dan terbentuk karakternya sejak mula. Mengapa? Agaknya Allah telah bukakan rahasia itu dalam firmanNya:
Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan teturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri. Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar. (QSnAn Nisaa’ 9)
Ya. Salah satu pinta yang sering diulang Ibrahim dalam doa-doanya adalah mohon agar diberi lisan yang shidiq. Dan lisan shidiq itulah yang agaknya ia pergunakan juga untuk membesarkan putera-puteranya sehingga mereka menjadi anak-anak yang tangguh, kokoh jiwanya, mulia wataknya, dan mampu melakukan hal-hal besar bagi ummat dan agama.
Nah, mari sejenak kita renungkan tiap kata yang keluar dari lisan dan didengar oleh anak-anak kita. Sudahkah ia memenuhi syarat sebagai qaulan sadiidaa, kata-kata yang lurus benar, sebagaimana diamanatkan oleh ayat kesembilan Surat An Nisaa’? Ataukah selama ini dalam membesarkan mereka kita hanya berprinsip “asal tidak menangis”. Padahal baik agama, ilmu jiwa, juga ilmu perilaku menegaskan bahwa menangis itu penting.
Kali ini, izinkan saya secara acak memungut contoh misal pola asuh yang perlu kita tataulang redaksionalnya. Misalnya ketika anak tak mau ditinggal pergi ayah atau ibunya, padahal si orangtua harus menghadiri acara yang tidak memungkinkan untuk mengajak sang putera. Jika kitalah sang orangtua, apa yang kita lakukan untuk membuat rencana keberangkatan kita berhasil tanpa menyakiti dan mengecewakan buah hati kita?
Saya melihat, kebanyakan kita terjebak prinsip “asal tidak menangis” tadi dalam hal ini. Kita menyangka tidak menangis berarti buah hati kita “tidak apa-apa”, “tidak keberatan”, dan “nanti juga lupa.” Betulkah demikian? Agar anak tak menangis saat ditinggal pergi, biasanya anak diselimur, dilenabuaikan oleh pembantu, nenek, atau bibinya dengan diajak melihat –umpamanya- ayam, “Yuk, kita lihat ayam yuk.. Tu ayamnya lagi mau makan tu!” Ya, anak pun tertarik, ikut menonton sang ayam. Lalu diam-diam kita pergi meninggalkannya.
Si kecil memang tidak menangis. Dia diam dan seolah suka-suka saja. Tapi di dalam jiwanya, ia telah menyimpan sebuah pelajaran, “Ooh.. Aku ditipu. Dikhianati. Aku ingin ikut Ibu tapi malah disuruh lihat ayam, agar bisa ditinggal pergi diam-diam. Kalau begitu, menipu dan mengkhianati itu tidak apa-apa. Nanti kalau sudah besar aku yang akan melakukannya!”
Betapa, meskipun dia menangis, alangkah lebih baiknya kita berpamitan baik-baik padanya. Kita bisa mencium keningnya penuh kasih, mendoakan keberkahan di telinganya, dan berjanji akan segera pulang setelah urusan selesai insyaallah. Meski menangis, anak kita akan belajar bahwa kita pamit baik-baik, mendoakannya, tetap menyayanginya, dan akan segera pulang untuknya. Meski menangis, dia telah mendengar qaulan sadiida, dan kelak semoga ini menjadi pilar kekokohan akhlaqnya.
Di waktu lain, anak yang kita sayangi ini terjatuh. Apa yang kita katakan padanya saat jatuhnya? Ada beberapa alternatif. Kita bisa saja mengatakan, “Tuh kan, sudah dibilangin jangan lari-lari! Jatuh bener kan?!” Apa manfaatnya? Membuat kita sebagai orangtua merasa tercuci tangan dari salah dan alpa. Lalu sang anak akan tumbuh sebagai pribadi yang selalu menyalahkan dirinya sepanjang hidupnya.
Atau bisa saja kita katakan, “Aduh, batunya nakal yah! Iih, batunya jahat deh, bikin adek jatuh ya Sayang?” Dan bisa saja anak kita kelak tumbuh sebagai orang yang pandai menyusun alasan kegagalan dengan mempersalahkan pihak lain. Di kelas sepuluh SMA, saat kita tanya, “Mengapa nilai Matematikamu cuma 6 Mas?” Dia tangkas menjawab, “Habis gurunya killer sih Ma. Lagian, kalau ngajar nggak jelas gitu.”
Atau bisa saja kita katakan, “Sini Sayang! Nggak apa-apa! Nggak sakit kok! Duh, anak Mama nggak usah nangis! Nggak apa-apa! Tu, cuma kayak gitu, nggak sakit kan?” Sebenarnya maksudnya mungkin bagus: agar anak jadi tangguh, tidak cengeng. Tapi sadarkah bahwa bisa saja anak kita sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa? Dan kata-kata kita, telah membuatnya mengambil pelajaran; jika melihat penderitaan, katakan saja “Ah, cuma kayak gitu! Belum seberapa! Nggak apa-apa!” Celakanya, bagaimana jika kalimat ini kelak dia arahkan pada kita, orangtunya, di saat umur kita sudah uzur dan kita sakit-sakitan? “Nggak apa-apa Bu, cuma kayak gitu. Jangan nangis ah, sudah tua, malu kan?” Akankah kita ‘kutuk’ dia sebagai anak durhaka, padahal dia hanya meneladani kita yang dulu mendurhakainya saat kecil?
Ah.. Qaulan sadiida. Ternyata tak mudah. Seperti saat kita mengatakan untuk menyemangati anak-anak kita, “Anak shalih masuk surga.. Anak nakal masuk neraka..” Betulkah? Ada dalilnya kah? Padahal semua anak jika tertakdir meninggal pasti akan menjadi penghuni surga. Juga kata-kata kita saat tak menyukai keusilan –baca; kreativitas-nya semisal bermain dengan gelas dan piring yang mudah pecah. Kita kadang mengucapkan, “Hayo.. Allah nggak suka lho Nak! Allah nggak suka!”
Sejujurnya, siapa yang tak menyukainya? Allah kah? Atau kita, karena diri ini tak ingin repot saja. Alangkah lancang kita mengatasnamakan Allah! Dan alangkah lancang kita mengenalkan pada anak kita satu sifat yang tak sepantasnya untuk Allah yakni, “Yang Maha Tidak Suka!” Karena dengan kalimat kita itu, dia merasa, Allah ini kok sedikit-sedikit tidak suka, ini nggak boleh, itu nggak benar.
Alangkah agungnya qaulan sadiida. Dengan qaulan sadiida, sedikit perbedaan bisa membuat segalanya jauh lebih cerah. Inilah kisah tentang dua anak penyuka minum susu. Anak yang satu, sering dibangunkan dari tidur malas-malasannya oleh sang ibu dengan kalimat, “Nak, cepat bangun! Nanti kalau bangun Ibu bikinkan susu deh!” Saat si anak bangun dan mengucek matanya, dia berteriak, “Mana susunya!” Dari kejauhan terdengar adukan sendok pada gelas. “Iya. Sabar sebentaar!” Dan sang ibupun tergopoh-gopoh membawakan segelas susu untuk si anak yang cemberut berat.
Sementara ibu dari anak yang satunya lagi mengambil urutan kerja berbeda. Sang ibu mengatakan begini, “Nak, bangun Nak. Di meja belajar sudah Ibu siapkan susu untukmu!” Si anakpun bangun, tersenyum, dan mengucap terimakasih pada sang ibu.
Ibu pertama dan kedua sama capeknya; sama-sama harus membuat susu, sama-sama harus berjuang membangunkan sang putera. Tapi anak yang awal tumbuh sebagai si suka pamrih yang digerakkan dengan janji, dan takkan tergerak oleh hal yang jika dihitung-hitung tak bermanfaat nyata baginya. Anak kedua tumbuh menjadi sosok ikhlas penuh etos. Dia belajar pada ibunya yang tulus; tak suka berjanji, tapi selalu sudah menyediakan segelas susu ketika membangunkannya.
Ya Allah, kami tahu, rumahtangga Islami adalah langkah kedua dan pilar utama dari da’wah yang kami citakan untuk mengubah wajah bumi. Ya Allah maka jangan Kau biarkan kami tertipu oleh kekerdilan jiwa kami, hingga menganggap kecil urusan ini. Ya Allah maka bukakanlah kemudahan bagi kami untuk menata da’wah ini dari pribadi kami, keluarga kami, masyarakat kami, negeri kami, hingga kami menjadi guru semesta sejati.
Ya Allah, karuniakan pada kami lisan yang shidiq, seperti lisan Ibrahim. Karuniakan pada kami anak-anak shalih yang kokoh imannya dan mulia akhlaqnya, seperti Isma’il. Meski kami jauh dari mereka, tapi izinkan kami belajar untuk mengucapkan qaulan sadiida, huruf demi huruf, kata demi kata. Aamiin. Sepenuh cinta. [sumber: salimfillah.com]
