RSS

Sepenggal catatan dari cisadon

Sepenggal Catatan Dari Cisadon

Kami hanya tiga hari tinggal di sini. Namun rasanya, ruh ini telah merekat dan terikat bersama jiwa pribumi yang rendah hati di lembah sunyi yang masih bagian teritorial negeri...

Selamat datang di lembah Cisadon. Lembah yang tenang,  jauh dari kebisingan suara klakson. Lembah untuk hidupnya ekosistem yang ramah. Lembah yang mengerti apa arti hidup ini. Sungai, hutan, kabut, angin, langit, dan gunung-gunung yang mengelilinginya menjadi saksi tegas atas sinergi anak manusia yang berkolaborasi bersama alam, atas perjalanan menjalankan garis kehidupannya di ketinggilan 1300 mdpl.

Berawal dari perjalanan peserta Pendidikan Dasar Guru Sekolah Alam (PDGSA) dari 3 sekolah. Sekolah Alam Bogor, Sekolah Alam Bintaro dan Sekolah Alam Ciomas yang salah satu agendanya yakni melakukan live in di Lembah Cisadon. Tak kurang dari 10 Jam  bagi kami untuk bisa menempuh perjalanan menuju lembah ini dengan berjalan kaki. Alhamdulillah, Allah SWT telah memberikan kurikulum terbaiknya dalam menempa diri. Kami dihadapkan dengan lumpur yang dalam,  hujan yang lebat, serta angin yang sangat kencang. Namun kami yakin semua itu Allah SWT hadirkan dalam perjalanan sebagai tempaan agar kami kuat dan bisa menggapai misi kami  yang tak mudah, yakni menyiapkan pemimpin peradaban masa depan. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Namun, ada beberapa hal yang setidaknya membuat hati kami terenyuh sedih. Lembah Cisadon menghadirkan 15 anak yang 12 diantaranya tidak bersekolah. Adapun 3 diantaranya yang bersekolah mereka harus melalui jalur yang kami lalui dengan penuh perjuangan. Terbayangkah perjalan itu bagi seorang anak SD yang masuk dipagi hari?

Beruntung! Cisadon memiliki relawan pendidikan bernama Kang Andri  yang rela naik turun gunung serta bergerak tanpa pamrih demi masa depan anak-anak disana. Dengan segala keterbatasannya, dia terus berjuang meluangkan waktu dihari Sabtu dan Minggunya untuk membawa mimpi dari anak-anak lembah Cisadon yang orang tuanya mayoritas para petani pemetik kopi. Namun seorang kang Andri masih terlalu kesulitan menghantarkan anak-anak Cisadon untuk meraih bintangnya. Beliau butuh bantuan kita dari segala sisi.

Kita harus bergerak! Itu azzam kami melihat mirisnya ketimpangan pendidikan di negeri ini. Kang Andri yang memiliki background seorang trail running telah menunjukan suatu nilai-nilai penuh makna atas apa yang dilakukannya. Mari bergerak bersama!

Yordan Aulia A. (Pegiat Sekolah Alam dan Pegiat Komunitas Bagikali)

Nurul khamdi

Berikut adalah perintah Qur'an atas kasus sosial unt. Jadi pelajaran dlm rangka membentuk akhlaq.
jika sarjana ilmu sosial melaksanakan pesan quran shg. Memiliki kepekaan sosial yg tinggi insyaAlloh bermanfaat dlm membentuk akhlaq serta mengkritisi perilaku mns. Namun fenomenanya adalah kebanyakan sarjana sosial berhenti di level menghafal isi buku dan tidak mampu menelaah isi apalagi konteks kekiniannya. Ilmu ushul figh dan figh (ibadah, dakwah, tarbiah) termasuk ilmu sosial yg memudahkan kita dlm mengamalkan quran dan sunnah. Jika kita dalami lagi ilmu sosial hari ini tercemar dg nilai2 yg bertentangan dg quran dan sunnah sehingga hanya mereka yg filternya baik yg mampu terlepas dari polutan tsb. Jadi Ahli ilmu sosial yg islami dibutuhkan SA
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: Matilah kamu, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.
Surah Al-Baqarah (2:243)
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?
Surah Al-Fil (105:1)

Perangkat sekolah alam

PERANGKAT SEKOLAH ALAM.

Berdasarkan pengalaman kami sebagai orang tua siswa, manajemen,  kepala sekolah, kaderisasi dan konsultan sekolahalam,  kami menyimpulkan ada beberapa perangkat yg diperlukan untuk menyelenggarakan sekolahalam. Perangkat perangkat dimaksud dapat diklasifikasi ke dalam beberapa katagori, Perangkat Dasar (PD), Perangkat Operasional (PO), Perangkat Pendukung (PP), Perangkat Manusia (PM), Perangkat Fisik (PF) dan Perangkat Lunak (PL).

 

Perangkat perangkat dimaksud antara lain:

1. Prinsip Pendidikan Akhlak. (PD, PL)
2. Strategi Pengajaran al Qur'an dan as Sunnah (PD,  PL) 
3. Bahasa Ibu (PD,  PL)
4. Talents Mapping (PD, PL)
5. Program TAD, Teacher As Desainer (PD,  PL)
6. Program BBA,  Belajar Bersama Alam (PO,  PL)
7. Program DIY, Do It Yourself (PO PL)
8. Yayasan (Payung Hukum) (PP, PM,  PL)
9. Prinsipal / Direktur Sekolah (PO,  PM)
10. TIM Administratur (PO,  PM)
11. TIM GA/Urusan Umum; Kerumahtanggaan, Kebersihan, Keamanan (PO,  PM)
12. TIM Fasilitor KBM, termasuk shadow teachers (PO, PM)
13. GreenLab (PP, PF)
14. Perpustakaan / Bengkel Baca & Bengkel Tulis (PD, PF)
15. PC Server,  Wi Fi (PP, PF)
16. Ruang Guru,  Siswa,  Admin dsb (PP, PF)
17. Buku Induk (PP, PF)
18. Rencana KBM (PP, PF)
19. Berita Acara KBM (PP, PF)
20. Portofolio Siswa (PP, PF)
21. Buku Penghubung (PP, PF)
22, Kios Retail (PP, PF)
23. Bio & Eco Tech Lab (PP, PF)
24. BMT (PP, PF)
25. Nota Kesepahaman Pendidikan Anak (PP, PF)
26. Nota Kesepahaman Fasilitator Pendidikan (PP, PF)
27. Komunitas Pendidikan (PD, PM)
28. Nota Kesepahaman Komunitas (PP, PF)
29. Studio Audio Visial (PP, PF)
30. Desain Lansekap (PD, PL)
31. Bengkel DIY (PD, PF)
32. Sistem Informasi Manajemen Sekolah (PP, PL)
33. Knowledge Management (PP,  PL)
34. Psikolog Tumbuh Kembang (PP,  PM)
35. Rencana Anggaran (PP, PL)
36. Program Outbound (PD, PL)
37. Outbound Equipment (PP, PF).
38. Dasar-dasar Leadership dan Manajemen sekolah (baru kami kembangkan bersama BMM saat pelatihan di SARI) (PD,  PL)
39. ...

Namun untuk startup atau memulai penyelenggaraan sekolahalam tidak harus seluruh perangkat di atas tersedia terlebih dahulu cukup beberapa perangkat yg bisa dikatagorikan sebagai PERANGKAT INTI yaitu.

1. Komunitas Pendidikan
2. Yayasan (tidak mutlak)
3. Fasilitaor KBM.
4. Bahasa Ibu.
5. Program BBA
6. Program Outbount
7. Program DIY
8. Buku Induk.
9. Buku Penghubung
10.  Rencana KBM
11. Berita Acara KBM
12. Rencana Anggara (tidak mutlak)
13. Desain Lansekap (tidak mutlak)
14. Outbound Equipment (bisa digunakan bersama / sewa).
15. Dasar-dasar Leadership dan Manajemen sekolah

Note: Outbound bisa out sourcing.

#sekedarsharing

Ferous

Tentang sebuah buku di hari buku

TENTANG SEBUAH BUKU DI HARI BUKU SEDUNIA

Tahukah Anda buku terbaik di dunia? Jika berkenan, mohon luangkan waktu Anda untuk membaca catatan saya yang agak panjang ini.

Hari ini, 23 April, diperingati sebagai hari buku sedunia. Banyak orang tiba-tiba ramai membicarakan buku. Beberapa di antara teman-teman saya bahkan membuat daftar: Buku terbaik sepanjang masa, buku favorit yang pernah mereka baca, buku yang paling memengaruhi kehidupan mereka, dan seterusnya.

Hari ini, banyak orang membicarakan buku. Mereka mengunggah sampul buku favorit mereka dan menjadikannya gambar profil. Beberapa dari mereka menulis status berisi kutipan dari buku-buku yang pernah mereka baca, dari pengarang-pengarang terbaik yang paling mereka kagumi. Sementara beberapa yang lain membuat semacam resolusi bahwa tahun ini akan membaca lebih banyak buku dari tahun-tahun sebelumnya.

Namun, di tengah berbagai judul buku yang dibicarakan, ada satu buku yang tampaknya luput dari perhatian. Buku yang di antara jutaan buku-buku lainnya seringkali dibiarkan kesepian di sudut-sudut rak perpustakaan… Buku yang di beberapa rumah dibiarkan berdebu… Buku yang beberapa orang merasa malu untuk mengutip tulisan-tulisan di dalamnya… Buku yang sering dianggap sebagai ‘bukan buku’ sehingga banyak orang enggan membaca aneka pelajaran dan kisah-kisah yang terkandung di dalamnya.

Buku itu bernama Al-Quran Al-Karim.

Dengan berbagai alasan, beberapa orang enggan menyebut dan menganggapnya sebagai buku, karena katanya ia adalah ‘kitab suci’. Menurut mereka, ia berbeda dengan buku biasa, ia adalah buku yang paling istimewa! Hey, bukankah buku yang paling istimewa pun tetap merupakan sebuah buku? Allah sendiri dalam Al-Quran bahkan menyebutnya sebagai ‘buku’ (dalam bahasa Arab, ‘kitab’)… kitab yang tak ada sedikitpun keraguan di dalamnya.

Khaled Abou el-Fadl dalam bukunya yang berjudul ‘A Conference of the Books: The Search of Beauty in Islam’ (2005) menyebut Al-Quran sebagai buku yang paling menginspirasi lahirnya jutaan buku lain setelahnya. Bagi El-Fadl, jika saja bisa terselenggara sebuah musyawarah buku, maka Al-Quran akan selalu menjadi pembicara utama yang bisa menjawab sekaligus memberi rujukan bagi berbagai persoalan yang diajukan… Ia akan menjadi titik pusat bagi jutaan bahkan miliaran buku lain yang terus-menerus bertawaf mengelilinginya.

Saya ingat sebuah cerpen dari Jorge Luis Borges yang menceritakan seorang pustkawan buta yang menjaga sebuah labirin perpustakaan raksasa. Dikisahkan suatu hari ia didatangi seorang pemuda yang mencari buku terbaik yang ada di perpustakaan itu, buku yang jika dibaca dengan baik maka akan bisa menyelesaikan seluruh persoalan hidup manusia.

“Ya, kau benar… Konon ada sebuah buku di dalam perpustakaan ini,” kata si pustakawan buta kepada sang pemuda. “Akupun terus mencarinya. Aku sudah menghabiskan seluruh hidupku untuk membaca seluruh buku yang ada di perpustakaan ini, membaca semuanya satu persatu hingga mataku menjadi buta, tetapi sayangnya aku belum berhasil menemukan buku itu…”

Hingga akhir cerita, Borges tidak mengatakan buku apa yang disebut sebagai buku terbaik yang bisa menyelesaikan seluruh persoalan umat manusia itu. Namun sang pemuda dan pustakwan buta terus mencarinya, terus mencarinya…

Ketika membaca cerpen itu, pikiran saya bertanya-tanya: Mungkinkah buku itu adalah Al-Quran?

***

Hari ini adalah hari buku sedunia. Saya merasa saya terlalu lama melupakan dan bahkan mencampakkan sebuah buku yang paling penting dan utama. Buku itu bernama Al-Quran Al-Karim.

Suatu hari saya menonton sebuah film tentang Yusuf (Joseph) yang diadaptasi dari kitab suci agama lain. Hingga film itu selesai, saya menggerutu: Film ini ngawur! Kisah Yusuf AS yang benar yang digambarkan Al-Quran bukan seperti itu! Tapi kemudian saya bertanya pada diri sendiri: Lalu, seperti apa kisah yang benar? Seperti apa Yusuf AS yang digambarkan Al-Quran?

Kemudian saya bergegas mencari Al-Quran saya, membersihkannya dari debu-debu. Lalu membaca dengan saksama kisah Yusuf AS di dalamnya. Di sana saya menyadari betapa indah buku yang sedang saya baca itu, saya takjub betapa hebat Al-Quran dalam menceritakan sesuatu… Sayangnya, mengapa selama ini saya tak mendekati Al-Quran sebagai sebuah buku? Pernahkah saya membaca Al-Quran, misalnya edisi terjemahan Bahasa Indonesianya, dari awal hingga akhir, dan menikmatinya sebagaimana saya membaca sebuah buku?

Saya jadi berpikir, bagaimana saya bisa memahami Al-Quran jika selama ini Al-Quran dibaca sepotong-sepotong? Satu ayat, satu ‘ain, satu lembar, satu surat, satu juz, dan seterusnya. Bagaimana saya bisa memahaminya jika saya membacanya sambil terburu-buru—hanya untuk menuntaskan target khataman atau mengejar setoran bacaan? Tetapi, yang paling mengguncangkan saya adalah mengapa sulit sekali saya meluangkan waktu untuk membacanya?

Saya jadi ingat nasihat guru saya, katanya, “Para Sahabat Nabi mengkhatamkan Al-Quran sekali setiap hari. Tetapi jika kau tak sanggup, bacalah al-Quran satu juz setiap hari.”

Saya bertanya pada guru saya waktu itu, “Jika tetap tidak bisa?”

“Bacalah satu surat setiap hari.” Jawabnya.

“Jika saya tak punya waktu, Guru?”

“Bacalah satu lembar setiap hari.”

“Jika tidak sempat?”

“Bacalah satu ‘ain setiap hari.”

Saya terdiam. “Jika saya begitu sibuk dan tak bisa membaca satu ‘ain setiap hari?”

Guru saya tersenyum, “Bacalah satu ayat setiap hari.”

Saya merasa gusar, lalu mengemukakan sebuah pertanyaan, “Guru, bagaimana jika saya tak bisa membaca Al-Quran?”

Guru saya tersenyum, “Pandanglah Al-Quran itu baik-baik, lalu tanyakanlah kepadanya, ‘Wahai Al-Quran, mengapa aku tak bisa membaca engkau?’

Mengapa aku tak bisa membaca engkau?

Selamat hari buku sedunia!

Melbourne, 23 April 2015

FAHD PAHDEPIE

A story from jordan

A Story from Jordan

pohon SAHABI ... yang merupakan saksi kenabian Rosullullah....

Pohon Sahabi yang menjadi saksi bisu pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Biarawan Kristen bernama Bahira (Arab: Buhaira) ... telah ditemukan kembali oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dan otoritas pemerintahan Yordania. Ketika memeriksa arsip negara di Royal Archives
Mereka menemukan referensi dari  teks-teks kuno yang menyebutkan bahwa Pohon Sahabi berada di wilayah padang pasir di utara Yordania.
Setelah 1400 tahun berlalu,  pohon ini ditemukan masih hidup dan tetap tumbuh kokoh di tengah ganasnya gurun Yordania.

Bersama beberapa ulama terkenal termasuk Syekh Ahmad Hassoun, Mufti Besar Suriah, Pangeran Ghazi mengadakan pengamatan dan ternyata benar bhw pohon tua itulah yang disebutkan dalam catatan biarawan Bahira.
Kini Pohon tersebut dilestarikan oleh pemerintah Yordania dan dipantau secara rutin keberadaannya. 
Keberadaan pohon ini memang cukup unik dan dinilai tidak cocok tumbuh di lingkungan sekitarnya.
Pasalnya lingkungan sekitar pohon  itu, merupakan tanah kering dan sangat gersang, sementara pohon Sahabi menjadi satu-satunya pohon yang tumbuh subur dengan daun yang rimbun. 

Kondisi ini menentang kegersangan dan ketiadaan warna dari lingkungan di sekitar pohon. Meskipun kekuatan matahari di tengah gurun sangat terik, namun akan terasa teduh ketika berada di bawah pohon ini. 

Tiga manuskrip kuno yang ditulis oleh Ibn Hisham, Ibn Sa'd al-Baghdadi, dan Muhammad Ibn Jarir al-Tabari menceritakan tentang kisah Bahira yang bertemu dengan bocah kecil calon Rasul terakhir.

Saat itu Muhammad SAW baru berusia 9 atau 12 tahun. Ia menyertai pamannya Abu Thalib dalam perjalanan untuk berdagang ke Suriah.

Pada suatu hari, Biarawan Bahira mendapat firasat, kalau ia akan bertemu dengan Sang Nabi terakhir..   tiba tiba ia melihat rombongan kafilah pedagang Arab, dan melihat pemuda kecil yang memiliki ciri-ciri  sesuai yang digambarkan dalam kitabnya. 

Kemudian Bahira mengundang kafilah tersebut dalam sebuah perjamuan.
Semua anggota kafilah menghadiri  kecuali anak yang Ia tunggu-tunggu. Ternyata, Muhammad SAW kecil sedang menunggu di bawah pohon untuk menjaga unta-unta.

Bahira keluar mencarinya dan ia sangat takjub menyaksikan cabang-cabang pohon Sahabi merunduk melindungi sang pemuda dari terik Matahari. Dan segumpal awan pun ikut memayungi ke manapun Ia pergi.
Bahira pun meminta agar bocah kecil tersebut diajak serta berteduh dan bersantap dalam perjamuan.
Dia pun segera meneliti dan menanyai pemuda kecil ini. dan  menyimpulkan bahwa Dia adalah utusan terakhir yang dijelaskan dalam Al Kitab.
Bahira pun meyakinkan paman anak itu yakni Abu Thalib untuk kembali ke Makkah, karena orang-orang Yahudi tengah mencari Muhammad SAW kecil untuk membunuhnya .

Setelah berselang 1400 tahun kemudian, pohon yang pernah meneduhi Muhammad SAW itu masih berdiri tegak dan menjadi satu-satunya pohon yang berhasil hidup di tengah padang pasir yang sangat gersang, menjadi saksi sejarah ttg kenabian Muhammad SAW. 
Pohon ini secara ajaib diawetkan oleh Alloh SWT untuk waktu yang panjang dan siapa pun masih bisa menyentuh dan berlindung di bawah cabangnya yang senantiasa rimbun.

Kisah secangkir kopi

Sebuah narasi kecil di pagi nan suci. KISAH SECANGKIR KOPI

Suatu hari di sebuah universitas terkenal. Sekelompok alumnus bertamu di rumah dosen senior, setelah bertahun-tahun mereka lulus. Setelah mereka semua menggapai kesuksesan, kedudukan yang tinggi serta kemapanan ekonomi dan sosial.

Setelah saling menyapa dan berbasa basi, masing-masing mereka mulai mengeluhkan pekerjaannya. Jadwal yang begitu padat, tugas yang menumpuk dan banyak beban lainnya yang seringkali membuat mereka stress.

Sejenak sang dosen masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, beliau keluar sambil membawa nampan di atasnya teko besar berisikan kopi dan berbagai jenis cangkir.

Ada cangkir-cangkir keramik tiongkok yang mewah. Cangkir-cangkir kristal. Cangkir-cangkir melamin. Dan cangkir-cangkir plastik. Sebagian cangkir tersebut luar biasa indahnya. Ukirannya, warnanya dan harganya yang waahh. Namun ada juga cangkir plastik yang biasanya berada di rumah orang-orang yang amat miskin.

Sang dosen berkata, “Silahkan.. masing-masing menuangkan kopinya sendiri”.
Setelah setiap mahasiswa memegang cangkirnya, sang dosen berkata,
“Tidakkah kalian perhatikan bahwa hanya cangkir-cangkir mewah saja yang kalian pilih? Kalian enggan mengambil cangkir-cangkir yang biasa?

Manusiawi sebenarnya, saat masing-masing dari kalian berusaha mendapatkan yang paling istimewa. Namun seringkali itulah yang membuat kalian menjadi gelisah dan stress.
Sejatinya yang kalian butuhkan adalah kopi, bukan cangkirnya.

Akan tetapi kalian tergiur dengan cangkir-cangkir yang mewah. Terus perhatikanlah, setelah masing-masing kalian memegang cangkir tersebut, kalian akan terus berusaha mencermati cangkir yang dipegang orang lain!.

Andaikan kehidupan adalah kopi, maka pekerjaan, harta dan kedudukan sosial adalah cangkir-cangkirnya.

Jadi, hal-hal itu hanyalah perkakas yang membungkus kehidupan. Adapun kehidupan (kopi) itu sendiri, ya tetap itu-itu saja, tidak berubah.

Saat konsentrasi kita tersedot kepada cangkir, maka saat itu pula kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kopi.

Karena itu kunasehatkan pada kalian, jangan terlalu memperhatikan cangkir, akan tetapi nikmatilah kopinya…”.

Sejatinya, inilah penyakit yang diderita manusia. Banyak orang yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang ia miliki, setinggi apapun kesuksesannya. Sebab ia selalu membandingkannya dengan apa yang dimiliki orang lain.

Setelah menikah dengan seorang wanita cantik yang berakhlak mulia, ia selalu berfikir bahwa orang lain menikah dengan wanita yang lebih istimewa dari istrinya.

Sudah tinggal di rumah sendiri, namun selalu membayangkan bahwa orang lain rumahnya lebih mewah dari rumah sendiri.

Ia bukannya menikmati kehidupannya beserta istri dan anak-anaknya. Tapi justru selalu memikirkan apa yang dimiliki orang lain, seraya berkata, “Aku belum punya apa yang mereka punya”.

📚Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,

"مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ؛ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا"

"Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu; seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya". (HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh al-Albani).

✒Seorang bijak berpetuah,
“Alangkah anehnya kebanyakan manusia! Mereka korbankan kesehatan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Setelah terkumpul, gantian mereka gunakan harta tersebut untuk mengembalikan kesehatannya yang telah hilang!

Mereka selalu gelisah memikirkan masa depan, namun melupakan hari ini. Akibatnya, mereka tidak menikmati hari ini dan tidak pula hidup di masa datang.

Mereka senantiasa melihat apa yang dimiliki orang lain, namun tidak pernah melihat apa yang dimilikinya sendiri. Akibatnya, ia tidak bisa meraih apa yang dimiliki orang lain dan tidak pula bisa menikmati milik sendiri.

Mereka diciptakan untuk satu tujuan, yakni beribadah. Dunia diciptakan untuk mereka gunakan sebagai sarana beribadah. Namun justru sarana tersebut malah melalaikan mereka dari tujuan utama”.

Filosofi alat tentang keikhlasan

🔆 Filosofi Akar tentang Keikhlasan🔆

Myra safar

Jadilah seperti akar...

Yang bekerja dalam sunyi dan diam tanpa suara, tak gaduh melakukan kewajibannya menjadi kontributor utama kehidupan baru sebuah pohon.

Belajarlah dari akar...

Yang tetap bekerja walau tak dipandang mata, yang tetap berbuat walau ditengah sepi. Karena ikhlasnya akar adalah sebenar-benarnya pembelajaran.

Tersebab karena akarlah...

Yang ketika pohon yang menjulang tinggi itu tetap gagah dan kokoh berdiri ditempatnya setelah diterpa badai dan angin yang bertiup dengan kencangnya.

Dialah akar...

Yang ketika hasil kerjanya sudah mulai tampak dihijaunya daun; kuatnya batang dan ranting serta matang ranumnya buah,  tidak kemudian menjadikannya sombong jumawa lantas sesumbar mengaku "itu semua adalah hasil kerja ku!!"

Akar juga memaklumi...

Bahwa ia tak mungkin berbuat semuanya sendiri, sehingga ia menerima uluran tangan matahari dan banyak berterima kasih kepada hujan yang menyiramsuburkan tanah dengan curahan airnya.

Berbuatlah seperti akar...

Yang kelak tetap semangat bekerja tak hentinya, ketika musim dan cuaca mulai menggugurkan daunnya; melapukkan batang dan rantingnya serta manusia mulai memetik habis buahnya.

Dan akarpun menyadari...

Bahwa ialah juga serupa mahluk lainnya yang tunduk pada kuasa Sang Pencipta yang ketika berkehendak terhadapnya melalui perantara waktu, maka setelah menuntaskan kewajibannya rela kembali keharibaan-Nya.

Tabayyun

SYARIAT TABYYUN / TATSABBUT.

Allah mewajibkan at-Tabayyun atau at-Tatsabbut (mencari kejelasan faktual atas suatu berita) QS. 4 ayat 94.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. QS 49 ayat 6.

SYARIAT TABYYUN / TATSABBUT.

Allah mewajibkan at-Tabayyun atau at-Tatsabbut (mencari kejelasan faktual atas suatu berita) QS. 4 ayat 94. dan QS 49 ayat 6.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ كَذَٰلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. 4 ayat 94

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. QS 49 ayat 6.

Saya anti demokrasi

Saya Anti Demokrasi

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam – harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.

Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein banyak salah, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.

“Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaimana yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.

Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam.

Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlege dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.

Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur’an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: “Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis ‘gitu…”

Lho kok Arab bukan etnis?

Bukan..., nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.

Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah “Yarim Wadi-sakib…”, itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.

Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhon kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.

“Al-Islamu mahjubun bil-muslimin“. Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.

Endapan-endapan dalam kalbu kolektif ummat Islam itu, kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor – maka akan meledak. Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera merevisi metoda dan strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan ‘sidang pleno’ yang transparan, berhati jernih dan berfikiran adil.
Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan.

Sumber:
Buku Emha http://www.goodreads.com/book/show/1380373.Iblis_Nusantara_Dajjal_Dunia