RSS

Zakat

Ustadz, Kholifah Abu bakar seorang yg terkenal kelembutan hatinya. Apa yg melatarbelakangi beliau memerangi mereka yg tdk membayar zakat? Padahal tdk membayar zakat tdk bisa dijatuhi hukum boleh dibunuh.

Zakat merupakan rukun Islam yg memiliki kekhasasan berupa adanya hak mustahiq di dalamnya.

Abu Bakr ash Shiddieq ra. mengatakan seandainya ketika Nabi saw hidup mereka membayar zakat berupa tali kekang unta sekalipun lalu setelah beliau wafat mereka tidak mau membayarnya lagi maka akan diperangi oleh beliau. Hal ini disebabkan 2 hal:
1. Sikap menolak syariat zakat merusak rukun Islam maka rusak pula keislaman yg menolaknya.
2. Kewajiban pemimpin untuk menegakkan keadilan membela mustahiq.

Awalnya beberapa shahabat ada yg tdk setuju dgn sikap Abu Bakar ash Shiddieq ra. Namun setelah mendengar penjelasan beliau mereka semua sepakat (ijma').

Ijma' shahabat merupakan sumber hukum ke 3 setelah al-Qur'an dan as-Sunnah sehingga ulama fiqih meng-istinbath (menggali nilai / bobot) dari ijma' tersebut sedemikian rupa sehingga mereka menetapkan norma hukum atas orang yg menolak syariat (bukan sekedar tidak mau membayar) zakat boleh diperangi oleh pemimpin ummat (uli al amri) bahkan jika penolakan tersebut merupakan gerakan yg menimbulkan fitnah syariat,  bukan sekedar fitnah bagi mustahiq maka memerangi yg menolak syariat zakat hukumnya wajib.

Demikian.
Wallahu a'lam bishshawaab.

Berbagi faedah

Berbagi Faidah

Bismillah was sholatu was salaamu 'alaa Rasuulillah

������������

��"Buang-buang waktu saja..!"
"Cuma anak kecil...!"��

��Ucapan yang senada, baik hanya sekedar betikan hati atau terlafadz oleh lisan, bagi sebagian orang adalah hal yang lumrah.

��Pikirnya, ngapain sih ngurusin anak orang orang? Emang siapa dia? Apa urusanku dengan anak kecil?

☝✨Ikhwatii fillah, Rasululullah adalah semulia-mulia makhluk telah mengajarkan kepada kita bagaimana memperlakukan anak kecil.

��Anas bin Malik, bahwa Rasulullah pernah suatu ketika mendapati seorang anak kecil yang bernama Abu Umair yang baru disapih sedang menangis.��

��Burung (Nughair) yang menjadi teman mainnya telah tiada.

����Sedih dan pilu. Tak kuasa berbuat apa-apa. Air mata pun meleleh tanda hati tengah berduka.��

☝Rasulullah pun mencandai Abu Umair, "Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan Nughair?"
��(HR. Bukhari dan Muslim).

✋��Ikhwatii fillah, itulah Rasulullah. Menghibur anak yang sedang bersedih.

��Tidak dibiarkan begitu saja.

⛅Anas bin Malik mengisahkan pula jika ada seorang budak wanita kecil meraih tangan Rasulullah, maka beliau pun menyambutnya.
Dan budak kecil tersebut bisa membawa Rasulullah kemana pun sesukanya.
��(HR. Bukhari-Muslim).

��Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan hadits di atas bahwa Rasulullah tidak berkata:
'Mau kemana aku dibawa?'
atau berkata:
'Pergilah dengan yang lain !'.

��Akan tetapi beliau mengiringi budak kecil itu memenuhi  keinginannya.
��(Syarah Riyadhush Shalihin 2/324).

��Ikhwatii fillah,
Rasulullah ketika melewati anak-anak kecil tidak melewatinya begitu saja.

��Anas ibn Malik mengkabarkan pula kepada kita bahwa Rasulullah jika melewati anak-anak yang sedang bermain, beliau pun menyalami mereka.
��(HR. Muslim).

����Dalam riwayat lain yang dishahihkan Syaikh al Albani, Anas bin Malik berkata: Rasulullah suatu ketika melintasi kami, dan kami saat itu masih kecil. Beliau pun salam: "Assalamu'alaikum wahai anak-anak..!"
�� (Ash Shahihah 290).

����Demikianlah petikan akhlak Rasulullah kepada anak-anak.

✋��Semoga bermanfaat bagi penulis sendiri dan kaum muslimin.

��Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya.
Karena Anas berkata:
"Rasulullah adalah orang yang paling penyayang terhadap keluarga dan anak-anak"
��(Ash Shahihah 2089).

Share dari
��WA Sedikit Faidah Saja

��Hadits-hadits dinukil dari kitab Quthuf min Syamail Muhammadiyah karya Syaikh Jamil Zainu dan sumber lainnya.

������������

��Sedikit tambahan

Diriwayatkan bahwa anak2 kecil Madinah terbiasa menanti kedatangan Rasululloh dari safar di perbatasan kota.
Karena ketika Nabi datang, maka beliau akan menggilir anak2 kecil itu utk diboncengkan di kendaraan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam...

# Mulai dari diri sendiri
S'moga Hari ini dan Esok Lebih Baik

Taabbur

TADABBUR

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. QS. 3:159
____________
Lembut,  Maaf dan Istighfar thd saudara seiman adalah dasar MUSYAWARAH. Adapaun tawakkal menjadi landasan pengambilan kebijakan.

هذا. و الله أعلم بالصواب.

Kisah seorang ayah bersama anaknya

�� Kisah seorang Ayah bersama Anaknya ��

��Seorang ayah ingin mengajarkan kepada  anaknya sejak dini, ia baru duduk dikelas 3 SD. untuk mengatur uang jajannya...

��Sang anak diberi uang Rp. 30.000 perminggu (termasuk ongkos ojek). Biasanya uang tersebut diberikan sang ayah sehari sebelum anaknya masuk sekolah...

��Pada minggu pagi mereka berdua hendak jalan-jalan ke kota untuk menikmati liburan. Sebelum berangkat., tak lupa sang ayah memberikan uang jajan mingguan anaknya dengan tiga lembar uang Rp 10.000. Dan uang tersebut disimpan rapi dalam saku celananya...

��Ditengah keasyikan sang ayah dan anaknya menikmati hari libur mereka.., tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang kakek pengemis yang telah tua renta sambil memelas...
Tak tega melihat sang kakek tua yang memelas itu., sang anak dengan sigap langsung mengeluarkan 3 lembar uang 10.000,- dari saku celana dan diberikan seluruhnya...

��Kontan saja kakek pengemis ini terlihat sangat senang seraya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak terkira kepada sang anak dan ayahnya ini...

��Setelah si kakek tua berlalu.., Sang ayah bertanya;
“Sayang.., kenapa kamu berikan semua uangmu untuk kakek itu..??? Bukankah satu lembar saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hingga nanti malam..???”

��“Ayaaah.. kalau kakek tua itu ikhlas menerima yang sedikit, maka aku ikhlas untuk memberikan yang lebih besar.!” Jawab anaknya dengan wajah tersenyum...

��“Tek..!!!” Hati sang ayah langsung tersentak kaget mendengar jawaban tersebut.
“Nah..! terus uang jajanmu untuk seminggu ke depan bagaimana..?” Tanya sang ayah mencoba mengujinya.

��“Kan aku kan masih punya ayah dan bunda..!!!
Tidak seperti kakek tua itu yang mungkin hanya hidup sebatangkara di dunia ini..!” Balas anaknya...

��“Kenapa kamu begitu yakin kalau ayah dan bunda akan mengganti uang jajanmu..? Ayah nggak janji loh..!?” Kembali sang ayah mengujinya...
“Kalau ayah merasa bahwa aku adalah amanah dari Tuhan yang dititipkan kepada ayah dan bunda.., maka aku sangat yakin ayah dan bunda tak akan membiarkan aku kelaparan seperti kakek tua itu...” Jawab sang anak mantap...

��Seakan sang ayah tak percaya dengan jawaban dari putranya hingga ia kehabisan kata-kata... Ia tak menyangka jawaban seperti itu keluar dari seorang bocah kelas 3 SD.  Ia seperti sedang berhadapan dengan seorang petuah besar dan ia tak bernilai apa-apa ketika berada dihadapannya..!

��Lalu... ia berjongkok dan memegang kedua pundak buah hatinya itu...
“Sayang… ayah dan bunda janji akan selalu menjaga dan merawatmu hingga Tuhan tetapkan batas umur ini... Ayah sangat sayang padamu naak..” Sambil kedua matanya berkaca-kaca seolah tak kuat menahan haru...

��Sambil memegang kedua pipi ayahnya, sang anak pun membalas,
“Ayah tak perlu berkata seperti itu... Sejak dulu aku sudah tahu bahwa ayah dan bunda sangat mencintai dan menyayangiku..! 
Kelak jika aku sudah dewasa aku akan selalu menjaga ayah dan bunda..! Dan aku tidak akan membiarkan ayah dan bunda hidup dijalanan seperti kakek tua itu..!!!”

��Dan airmata sang ayah pun tak terbendung mendengar jawaban tulus dari anaknya itu... Dipeluklah tubuh mungil itu dengan sangat erat...
Dan keduanya larut dalam haru dan kasih sayang...

❤Kapankah kurikulum keluarga kita bisa menghasilkan mental anak yang seperti ini? ???
Semoga kita terinspirasi dari cuplikan kisah ini, dan bermanfaat bagi kita sekalian... Amiin

untuk melipat gandakan hikmah dan manfaatnya, dipersilahkan membagi dengan saudara dan teman teman lainnya.

Bahagianya aku andai kau jadi temanku

Dr Ust Eka Herdiana :
بسم الله الرحمن الرحيم

Embun Pagi...

��BAHAGIANYA AKU ANDAI KAU JADI TEMANKU��

Imam Syafi'i berkata:

"Jika engkau punya teman  yang selalu membantumu dlm rangka ketaatan kepada Allah- maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman -baik- itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali"
Sahabat fillah luangkanlah waktu sejenak untuk membaca hadits yg mulia berikut ini....!!!

Diriwayatkan bahwa :
Apabila penghuni Syurga telah masuk ke dalam Syurga, lalu mereka tidak menemukan Sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia.

Mereka bertanya tentang Sahabat mereka kepada اللّهُ سبحانه و تعالى ..

"Yaa Rabb...
Kami tidak melihat Sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami...??

"Maka اللّهُ سبحانه و تعالى berfirman:
"Pergilah ke neraka, lalu keluarkan Sahabat-sahabatmu yg di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar zarrah."
(HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd").

Al-Hasan Al-Bashri berkata:
"Perbanyaklah Sahabat-sahabat mu'minmu, karena mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat".

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat2nya sambil menangis:

"Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada اللّهُ تعالى  tentang aku:

"Wahai Rabb Kami...
Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU..
Maka masukkanlah dia bersama kami di Syurga-Mu"

Sahabat fillah
Mudah-mudahan dengan ini, aku telah  Mengingatkanmu tentang اللّهُ تعالى ..
Agar aku dapat besertamu kelak di Syurga & Ridho-Nya..

Yaa Rabb...
ْAku Memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah kepadaku
Sahabat-sahabat yang selalu mengajakku untuk Tunduk Patuh & Taat Kepada Syariat-Mu..

Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di Akhirat dengan-Mu...

آمِيْن يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ

Remaja

Qaulan Sadiidaa untuk Anak Kita
Oleh: Salim A. Fillah

Remaja. Pernah saya menelusur, adakah kata itu dalam peristilahan agama kita?

Ternyata jawabnya tidak. Kita selama ini menggunakan istilah ‘remaja’ untuk menandai suatu masa dalam perkembangan manusia. Di sana terjadi guncangan, pencarian jatidiri, dan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Terhadap masa-masa itu, orang memberi permakluman atas berbagai perilaku sang remaja. Kata kita, “Wajar lah masih remaja!”

Jika tak berkait dengan taklif agama, mungkin permakluman itu tak jadi perkara. Masalahnya, bukankah ‘aqil dan baligh menandai batas sempurna antara seorang anak yang belum ditulis ‘amal dosanya dengan orang dewasa yang punya tanggungjawab terhadap perintah dan larangan, juga wajib, mubah, dan haram? Batas itu tidak memberi waktu peralihan, apalagi berlama-lama dengan manisnya istilah remaja. Begitu penanda baligh muncul, maka dia bertanggungjawab penuh atas segala perbuatannya; ‘amal shalihnya berpahala, ‘amal salahnya berdosa.

Isma’il ‘alaihissalaam, adalah sebuah gambaran bagi kita tentang sosok generasi pelanjut yang berbakti, shalih, taat kepada Allah dan memenuhi tanggungjawab penuh sebagai seorang yang dewasa sejak balighnya. Masa remaja dalam artian terguncang, mencoba itu-ini mencari jati diri, dan masa peralihan yang perlu banyak permakluman tak pernah dialaminya. Ia teguh, kokoh, dan terbentuk karakternya sejak mula. Mengapa? Agaknya Allah telah bukakan rahasia itu dalam firmanNya:

Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan teturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri. Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar. (QSnAn Nisaa’ 9)

Ya. Salah satu pinta yang sering diulang Ibrahim dalam doa-doanya adalah mohon agar diberi lisan yang shidiq. Dan lisan shidiq itulah yang agaknya ia pergunakan juga untuk membesarkan putera-puteranya sehingga mereka menjadi anak-anak yang tangguh, kokoh jiwanya, mulia wataknya, dan mampu melakukan hal-hal besar bagi ummat dan agama.

Nah, mari sejenak kita renungkan tiap kata yang keluar dari lisan dan didengar oleh anak-anak kita. Sudahkah ia memenuhi syarat sebagai qaulan sadiidaa, kata-kata yang lurus benar, sebagaimana diamanatkan oleh ayat kesembilan Surat An Nisaa’? Ataukah selama ini dalam membesarkan mereka kita hanya berprinsip “asal tidak menangis”. Padahal baik agama, ilmu jiwa, juga ilmu perilaku menegaskan bahwa menangis itu penting.

Kali ini, izinkan saya secara acak memungut contoh misal pola asuh yang perlu kita tataulang redaksionalnya. Misalnya ketika anak tak mau ditinggal pergi ayah atau ibunya, padahal si orangtua harus menghadiri acara yang tidak memungkinkan untuk mengajak sang putera. Jika kitalah sang orangtua, apa yang kita lakukan untuk membuat rencana keberangkatan kita berhasil tanpa menyakiti dan mengecewakan buah hati kita?

Saya melihat, kebanyakan kita terjebak prinsip “asal tidak menangis” tadi dalam hal ini. Kita menyangka tidak menangis berarti buah hati kita “tidak apa-apa”, “tidak keberatan”, dan “nanti juga lupa.” Betulkah demikian? Agar anak tak menangis saat ditinggal pergi, biasanya anak diselimur, dilenabuaikan oleh pembantu, nenek, atau bibinya dengan diajak melihat –umpamanya- ayam, “Yuk, kita lihat ayam yuk.. Tu ayamnya lagi mau makan tu!” Ya, anak pun tertarik, ikut menonton sang ayam. Lalu diam-diam kita pergi meninggalkannya.

Si kecil memang tidak menangis. Dia diam dan seolah suka-suka saja. Tapi di dalam jiwanya, ia telah menyimpan sebuah pelajaran, “Ooh.. Aku ditipu. Dikhianati. Aku ingin ikut Ibu tapi malah disuruh lihat ayam, agar bisa ditinggal pergi diam-diam. Kalau begitu, menipu dan mengkhianati itu tidak apa-apa. Nanti kalau sudah besar aku yang akan melakukannya!”

Betapa, meskipun dia menangis, alangkah lebih baiknya kita berpamitan baik-baik padanya. Kita bisa mencium keningnya penuh kasih, mendoakan keberkahan di telinganya, dan berjanji akan segera pulang setelah urusan selesai insyaallah. Meski menangis, anak kita akan belajar bahwa kita pamit baik-baik, mendoakannya, tetap menyayanginya, dan akan segera pulang untuknya. Meski menangis, dia telah mendengar qaulan sadiida, dan kelak semoga ini menjadi pilar kekokohan akhlaqnya.

Di waktu lain, anak yang kita sayangi ini terjatuh. Apa yang kita katakan padanya saat jatuhnya? Ada beberapa alternatif. Kita bisa saja mengatakan, “Tuh kan, sudah dibilangin jangan lari-lari! Jatuh bener kan?!” Apa manfaatnya? Membuat kita sebagai orangtua merasa tercuci tangan dari salah dan alpa. Lalu sang anak akan tumbuh sebagai pribadi yang selalu menyalahkan dirinya sepanjang hidupnya.

Atau bisa saja kita katakan, “Aduh, batunya nakal yah! Iih, batunya jahat deh, bikin adek jatuh ya Sayang?” Dan bisa saja anak kita kelak tumbuh sebagai orang yang pandai menyusun alasan kegagalan dengan mempersalahkan pihak lain. Di kelas sepuluh SMA, saat kita tanya, “Mengapa nilai Matematikamu cuma 6 Mas?” Dia tangkas menjawab, “Habis gurunya killer sih Ma. Lagian, kalau ngajar nggak jelas gitu.”

Atau bisa saja kita katakan, “Sini Sayang! Nggak apa-apa! Nggak sakit kok! Duh, anak Mama nggak usah nangis! Nggak apa-apa! Tu, cuma kayak gitu, nggak sakit kan?” Sebenarnya maksudnya mungkin bagus: agar anak jadi tangguh, tidak cengeng. Tapi sadarkah bahwa bisa saja anak kita sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa? Dan kata-kata kita, telah membuatnya mengambil pelajaran; jika melihat penderitaan, katakan saja “Ah, cuma kayak gitu! Belum seberapa! Nggak apa-apa!” Celakanya, bagaimana jika kalimat ini kelak dia arahkan pada kita, orangtunya, di saat umur kita sudah uzur dan kita sakit-sakitan? “Nggak apa-apa Bu, cuma kayak gitu. Jangan nangis ah, sudah tua, malu kan?” Akankah kita ‘kutuk’ dia sebagai anak durhaka, padahal dia hanya meneladani kita yang dulu mendurhakainya saat kecil?

Ah.. Qaulan sadiida. Ternyata tak mudah. Seperti saat kita mengatakan untuk menyemangati anak-anak kita, “Anak shalih masuk surga.. Anak nakal masuk neraka..” Betulkah? Ada dalilnya kah? Padahal semua anak jika tertakdir meninggal pasti akan menjadi penghuni surga. Juga kata-kata kita saat tak menyukai keusilan –baca; kreativitas-nya semisal bermain dengan gelas dan piring yang mudah pecah. Kita kadang mengucapkan, “Hayo.. Allah nggak suka lho Nak! Allah nggak suka!”

Sejujurnya, siapa yang tak menyukainya? Allah kah? Atau kita, karena diri ini tak ingin repot saja. Alangkah lancang kita mengatasnamakan Allah! Dan alangkah lancang kita mengenalkan pada anak kita satu sifat yang tak sepantasnya untuk Allah yakni, “Yang Maha Tidak Suka!” Karena dengan kalimat kita itu, dia merasa, Allah ini kok sedikit-sedikit tidak suka, ini nggak boleh, itu nggak benar.

Alangkah agungnya qaulan sadiida. Dengan qaulan sadiida, sedikit perbedaan bisa membuat segalanya jauh lebih cerah. Inilah kisah tentang dua anak penyuka minum susu. Anak yang satu, sering dibangunkan dari tidur malas-malasannya oleh sang ibu dengan kalimat, “Nak, cepat bangun! Nanti kalau bangun Ibu bikinkan susu deh!” Saat si anak bangun dan mengucek matanya, dia berteriak, “Mana susunya!” Dari kejauhan terdengar adukan sendok pada gelas. “Iya. Sabar sebentaar!” Dan sang ibupun tergopoh-gopoh membawakan segelas susu untuk si anak yang cemberut berat.

Sementara ibu dari anak yang satunya lagi mengambil urutan kerja berbeda. Sang ibu mengatakan begini, “Nak, bangun Nak. Di meja belajar sudah Ibu siapkan susu untukmu!” Si anakpun bangun, tersenyum, dan mengucap terimakasih pada sang ibu.

Ibu pertama dan kedua sama capeknya; sama-sama harus membuat susu, sama-sama harus berjuang membangunkan sang putera. Tapi anak yang awal tumbuh sebagai si suka pamrih yang digerakkan dengan janji, dan takkan tergerak oleh hal yang jika dihitung-hitung tak bermanfaat nyata baginya. Anak kedua tumbuh menjadi sosok ikhlas penuh etos. Dia belajar pada ibunya yang tulus; tak suka berjanji, tapi selalu sudah menyediakan segelas susu ketika membangunkannya.

Ya Allah, kami tahu, rumahtangga Islami adalah langkah kedua dan pilar utama dari da’wah yang kami citakan untuk mengubah wajah bumi. Ya Allah maka jangan Kau biarkan kami tertipu oleh kekerdilan jiwa kami, hingga menganggap kecil urusan ini. Ya Allah maka bukakanlah kemudahan bagi kami untuk menata da’wah ini dari pribadi kami, keluarga kami, masyarakat kami, negeri kami, hingga kami menjadi guru semesta sejati.

Ya Allah, karuniakan pada kami lisan yang shidiq, seperti lisan Ibrahim. Karuniakan pada kami anak-anak shalih yang kokoh imannya dan mulia akhlaqnya, seperti Isma’il. Meski kami jauh dari mereka, tapi izinkan kami belajar untuk mengucapkan qaulan sadiida, huruf demi huruf, kata demi kata. Aamiin. Sepenuh cinta. [sumber: salimfillah.com]

Bahasa ibu bukan mother tongue

Yang kita maksud BAHASA IBU bukan MOTHER TONGUE.

Ibu wajib berbahsa ibu,  ayah juga, guru juga,  pengasuh juga,  shadow teacher juga,  security juga, nenek juga,  anak juga wajib berbahasa ibu terhadap ibunya,  begitu pula cucu terhadap nenek.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. QS. 17.23

Asyiknya rame-rame

��Kalian tahu kenapa hujan itu menyenangkan ?
Karena turunnya rame-rame,
��Pasti sedih kala u hujan itu turunnya hanya satu tetes.
Lantas satu tetes lagi, dan seterusnya.

��Kalian tahu kenapa nasi itu lezat dan mengenyangkan?
Karena dihidangkan rame-rame,
��Pasti bengong kalau hanya satu butir saja di atas piring.
Ini mau makan apa ?

��Kalian tahu gigi itu berguna ?
Karena rame2 berbaris rapi
��Pasti ompong nyebutnya kalau cuma satu.
Tidak bisa buat mengunyah. Cuma bisa buat tersenyum melihatnya.

��Sungguh,,,
Di dunia ini sesuatu yang positif selalu spesial saat rame-rame dilakukan

��Gotong royong, rame-rame tentu lebih baik..

��Belajar, rame-rame saling bantu lebih banyak yang dipelajari.

��Bekerja, rame-rame saling tolong menolong lebih cepat selesai.

��Itulah gunanya teman-teman terbaik.
Teman-teman yang saling menasehati dan mengingatkan.
Rame-rame menjadi selalu lebih seru.

��Kalian tahu kenapa keyboard laptop atau Mobile Phone harus lengkap ?
Karena hilang satu saja, rasanya tidak utuh lagi.

��Begitulah pertemanan yang baik.
Hilang satu, terasa kosong semuanya.
Rame-rame selalu lebih menyenangkan..

��Tetap berada dalam pertemanan itu lebih baik, daripada sendirian.

��Sahabat, semoga hari ini semua bersukacita menikmati hidup ini. Aamiin Ya Robbal 'Alamin

Tetap bertahan dalam indahnya kebersamaan �� 

��

Inspirasi dari budaya dan adat minangkabau

Inspirasi dari Budaya dan Adat Minangkabau

Menjelajah Sumatera Barat selama 5 hari (22 - 26 Desember 2014) membawa banyak inspirasi bagi kami dari Sekolah Alam Tangerang. Apalagi kami berkesempatan mendapatkan penjelasan khusus tentang BAM (Budaya dan Adat Minangkabau) dari Bang Ade Sekolahalam Minangkabau selama 3 sesi, membuat kami ta'jub.
Berikut ini adalah sekelumit sharing yang mudah2an bisa bermanfaat, terutama bagi rekan2 guru dan pengelola sekolah alam.

1. Alam terkembang menjadi guru.
Sekolah dan alam tidak terpisahkan. Karena itu penulisan yang benar adalah "sekolahalam". Jadi singkatannya SM dong...bukan SAM :-)

2. Sistem matrilineal bertujuan untuk melindungi kaum wanita. Apabila suami "berkhianat" maka wanita bisa bertahan menghidupi keluarganya dengan hasil tanah ulayat.

3. Adanya pembagian tugas yang jelas di Rumah Gadang antara "Mamak" yang mengelola tanah ulayat dan "Bundo Kanduang" sebagai Pengelola hasil produksi tanah ulayat (bendahara Rumah Gadang).

4. Manajemen alokasi.
Di muka rumah gadang terdapat 4 rangkiang/lumbuang tempat menyimpan hasil panen, yaitu untuk kebutuhan konsumsi penghuni rumah gadang, untuk biaya pendidikan dan kesehatan, untuk biaya pemeliharaan rumah gadang, dan untuk menjamu tamu dan musafir. Bunda Asih menganalogikan sistem alokasi ini sebagai : untuk konsumsi, asuransi, maintence dan infaq.

5. Majelis syuro yang disebut "Tungku tigo sajarangan".
Di setiap institusi di Sumatera Barat, kebijakan2 yg menyangkut kepentingan komunitas ditentukan oleh "Tungku Tigo Sajarangan" yang terdiri dari : cadiak pandai (orang yg menguasai ilmu duniawi), alim ulama  
(Tokoh agama) dan Ninik Mamak (ketua adat). Tentu saja ada  dampak positif dan negatif dari sistem ini. But at least, bermusyawarah sudah menjadi hal yang biasa di masyarakat.

6. Pendidikan ala surau.
Laki-laki yang berusia di atas 6 tahun (usia SD) tidak boleh lagi tinggal di rumah, melainkan di surau. Di sinilah diberikan ilmu2 ketrampilan dan "persiapan merantau". Misalnya : ketrampilan bercocok tanam, ilmu beladiri, ketrampilan bertukang, dll.
Penanggungjawab ini adalah seorang Syaikh tokoh agama setempat. Dalam prakteknya, beliau dibantu oleh anggota masyarakat yang bersedia berkontribusi sharing ilmu.

7. Pendidikan keputrian.
Bundo Kanduang bertanggung jawab memberikan bekal ketrampilan keputrian kepada anak2 perempuan. Di rumah gadang anak2 putri belajar memasak, menjahit, menyulam dan berbagai ketrampilan lainnya.

8. "Kato nan ampek". Sebagai bekal merantau.
Salah satu bekal yang sangat penting untuk merantau adalah etika dan sopan santun. Selain ilmu "dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" yaitu menghormati adat istiadat setempat, orang2 minang juga memiliki "Kato nan ampek", yaitu "kato mandaki, kato mandata, kato manurun dan kato malereng" yaitu memilih bahasa yang tepat dan sesuai dengan lawan bicara.
Bekal ini membuat orang Minang di rantau menjadi sangat cair. Di kota2 lain mungkin dikenal Kampung Jawa, Kampung Cina, Kampung Bugis, Kampung Makassar, Kampung Ambon, Kampung Melayu, dan lain2. Namun tidak dikenal "Kampung Minang".

Terimakasih untuk Bang Ade dan Bu Miya atas pelayanan dan sharing ilmunya.

Salam
Andri Fajria
Sekolahalam Tangerang

Pidato steve jobs

melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri
sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang
akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari
berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati
adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena
hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau
gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap
ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan
berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu.
Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti
kata hati Anda.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan
pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya
bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir
pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari
3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala
sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus
menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan
dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah
bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari
itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka
memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke
pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius,
namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah
mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas
yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat
sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus
begitu hingga beberapa dekade lagi.
Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada
Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:Tidak ada orang
yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk
mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak.
Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan.
Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan
yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.
Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain.
Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang
lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati
Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi
Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya
nomor dua.
Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth
Catalog“, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan
oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park,
dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir
1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan
mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas,
35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan
ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The
Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi
terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul
belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang
mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata:
“Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. SelaluMerasa Bodoh). Itulah pesan
perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya
selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk
memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay Foolish.

Pernahkah ini terjadi pada anda?

Pernahkah ini terjadi pada sanak famili atau diri sendiri?
Dicaci maki, dibenci bahkan diusir pergi.

Pernahkah ini terjadi pada sanak famili atau diri kita sendiri?
Diberi gelar terburuk dan disiarkan kepada seluruh negeri

Pernahkah ini terjadi pada sanak famili atau diri kita sendiri?
Dilempari kotoran dan diludahi hampir setiap hari

Pernahkah ini terjadi pada sanak famili atau diri kita sendiri?
Dikucilkan dan diboikot di sebuah lembah tak berpenghuni.
Tak mendapatkan makanan berhari-hari.
Sering mengganjal perut dengan batu sampai bergeretak berbunyi.

Pernahkah ini terjadi pada sanak famili atau diri kita sendiri?
Tak bisa tidur dengan selimut yang menutupi.
Tak punya alas duduk kecuali kulit yang kecil sekali.

Pernahkah ini terjadi pada sanak famili atau diri kita sendiri?
Berdakwah setiap saat tiada henti.
Terang-terangan maupun tersembunyi.
Pada banyak orang atau sendiri-sendiri.
Mengajak orang kembali kepada fitrah sejati.
Beriman kepada Alloh SWT Yang Maha Suci.

Pernahkah ini terjadi pada sanak famili atau diri kita sendiri?
Citra diri tak cukup lagi.
Untuk mengingatkan kaum jahil lagi keras hati.
Sang al Amin tak digubris lagi.
Karena ego harta, kuasa dan hawa nafsu yang menjadi kendali.

Pernahkah ini terjadi pada sanak famili atau diri kita sendiri?
Berpindah dari tanah lahir yang dicintai.
Membangun basis masyarakat madani.
Membangun peradaban sejati.
Yang menjadikan Alloh sebagai tujuan tertinggi.
Yang menjadikan Rosul rujukan perilaku bermasyarakat maupun pribadi.
Yang menjadikan Islam sebagai pedoman hidup sehari-hari.
Yang menjadikan quran penerang dan penyejuk hati.

Pernahkah ini terjadi pada sanak famili atau diri kita sendiri?
Berjuang di medan perang demi misi yang suci.
Menjadikan agama Alloh yang tertinggi di bumi.
Sering terluka dan bahkan pernah kehilangan beberapa gigi.
Sering sangat bersedih karena kehilangan para sahabat sejati.
Yang syahid di medan perang menuju ridho illahi.

Semuanya terjadi pada kekasih kita dan kekasih Alloh ta'ala
Dialah Nabi akhir zaman, teladan dan pemimpin kita.
Dialah pelita pada saat dunia gelap gulita.
Dialah teladan untuk hidup di dunia fana.
Agar di akhirat selamar selamanya.
Dialah pembawa risalah suci yang bertahan hingga kini.
Dialah satu-satunya orang yang sempurna untuk diikuti.
Dialah yang memanggil kita semya di akhir hayatnya.
Dialah yang mengharapkan kita menjadu saudaranya dan bersamanya di surga.
Dialah yang terus memikirkan kita. Bagaimana dengan kita?

Mari kita teladani setiap langkah pribadi maupun secara jama'i.
Teladani langkahnya membangun diri maupun menata negeri.
Teladani langkahnya menata rumah tangga ataupun membangun tatanan negara bahkan seluruh bumi.
Dan mari sampaikan Sholawat dan Salam lebih banyak kepadanya.
Allohumma sholli A'laa habiibina Muhammad wa a'laa aalihi washohbihi.

Sekenal apa kita kepada sang Nabi?

Memperingati Maulid Nabi shallaLLohu alaihi wa sallam

Sekenal apa kita pada Sang #Nabi ﷺ?

Mohon izin merangkum beberapa sifat beliau dari hadits-hadits dalam Asy Syamail karya Imam At Tirmidzi:

1. Perawakan Sang #Nabi ﷺ tidak tinggi, tidak pendek. Rambutnya tidak keriting, tak pula lurus. Wajah beliau tak bulat, bukan pula persegi.

2. Kulit Sang #Nabi ﷺ cerah, putih kemerah-merahan. Rambutnya disisir ketika sebahu, digerai ketika sepapak daun telinga. Dahi beliau lebar.

3. Alis Sang #Nabi ﷺ melengkung panjang, tebal, & nyaris bertaut di tengah. Di antara keduanya terdapat urat yang memerah kala beliau marah.

4. Bola mata Sang #Nabi ﷺ indah & hitam, bulu matanya lentik menawan. Hidungnya mancung, bagian atasnya memancar cahaya. Dua pipinya datar.

5. Janggut Sang #Nabi ﷺ menggaris dari depan telinga, menebal menuju dagu. Mulutnya lebar, gigi-giginya besar, dari selanya memancar cahaya.

6. Dari bawah janggut Sang #Nabi ﷺ menggalur ke bawah bebulu halus, lewat leher, melebat di dada, melajur bagai tongkat hingga ke pusarnya.

7. Leher Sang #Nabi ﷺ jenjang & indah. Perut beliau sama rata dengan dadanya nan bidang. Jarak antara kedua bahu lebar. Persendiannya kokoh.

8. Lengan Sang #Nabi ﷺ panjang, tapak tangan lebar & tebal, jemarinya ramping. Telapak kaki beliau cekung, halus hingga airpun tak menempel.

9. Sang #Nabi ﷺ berjalan dengan langkah kaki lebar, begitu langsam seolah menuruni bukit, tubuh beliau ikut berguncang anggun tiap langkah.

10. Bila menoleh, #Sang Nabi ﷺ berbalik dengan seluruh badan, lebih sering menunduk dibanding mendangak, melihat dengan sepenuh perhatian.

11. Dulu #Nabi ﷺ suka menyisir rambut ke belakang mirip Ahli Kitab. Saat nyata keingkaran mereka, beliau selisihi dengan menyisir belahnya.

12. Sang #Nabi ﷺ suka meminyaki rambutnya. Kata Anas, uban beliau nan kurang dari 20 helai jadi tersamar. Beliau gemar merapikan janggutnya.

13. Sang #Nabi ﷺ menyukai celak itsmid yang beliau gunakan menjelang tidurnya. Tiga kali untuk kanan & kiri; sejuk & menumbuhkan bulu mata.

14. Di antara pakaian kesukaan Sang #Nabi ﷺ adalah gamis yang putih, hibarah merah buatan Yaman, & baju sampir 2 helai warna hijau & hitam.
15. Sang #Nabi ﷺ berminyak wangi di seluruh tubuhnya. Istri beliau mengoleskan di sekujur badan, lalu beliau sendiri harumkan bagian ‘aurat.

16. Jari manis Sang #Nabi ﷺ dilingkari cincin perak bermata batu hitam Habasyah, ditulisi “Muhammad Rasul Allah”; dilepas jika ke Peturasan.

17. Sang #Nabi ﷺ menyimpan selalu selimut Khadijah; kenangan menenangkan saat beliau terguncang wahyu pertama, & di dalamnya beliau diseru.

18. Sang #Nabi ﷺ gesit berolahraga lari. Kadang bersama istri. Kadang anak-anak kecil; beliau lombakan siapa dulu yang mampu tangkap beliau.

19. #Nabi ﷺ suka minum susu dari wadah yang sama dengan istrinya, ditepatkan di bekas bibirnya. Anggur, zaitun, & buah lain; segigit berdua.

20. Tidur Sang #Nabi ﷺ tidak tengkurap. Jika miring berbantal tapak tangan, kaki disilang. Jika telentang, kaki kanan diletak di atas kiri.

21. Kadang dalam renung khusyu’, Sang #Nabi ﷺ duduk dengan 1 lutut diangkat menempel perut. Suka bersandar bantal, tapi bukan di saat makan.

22. #Nabi ﷺ suka mandi bersama & bercanda bermain air dengan istri-istrinya, bahkan pada Saudah nan tua. Usia tak menghalangi kemesraan itu.

23. Penutup kepala kesayangan #Nabi ﷺ ialah surban hitam, dikenakan dengan ujung menjatuh di pundak. Sandalnya bertali dua dari kulit hewan.

24. Makanan kesukaan #Nabi ﷺ -yang jarang beliau nikmati- adalah paha kambing. Camilannya hais; campuran kurma rendam, kismis, & susu masam.

25. #Nabi ﷺ yang penuh cinta memberi nama bebarang miliknya; dari perkakas rumah-tangga, bejana, gelas, kuda, unta, keledai, pedang, tombak.

26. #Nabi ﷺ makan roti dari tepung utuh tak diayak (dulu dianggap rendah; kini sehat berserat), lauknya garam, minyak zaitun, cuka, & labu.

27. #Nabi ﷺ tak pernah mencela makanan. Jika menyukainya, beliau memakannya penuh syukur. Jika tidak suka, beliau cukup diam tanpa komentar.

28. #Nabi ﷺ mengerjakan sendiri segala urusan rumahtangga yang beliau bisa; menambal baju sobek, menjahit sandal rusak, hingga memerah susu.

29. #Nabi ﷺ amat suka bersiwak bersih gigi; saat hendak shalat, hendak tilawah, hendak menemui tamu/sahabat, juga tiap kali menjumpai istri.
30. #Nabi ﷺ tak pernah jijik pada istri yang sedang haidh (seperti kebiasaan Arab & Yahudi); beliau tetap bermesra, hanya menghindari jima’.

31. Saat ‘Aisyah haidh, #Nabi ﷺ bersandar di pangkuannya sambil tilawah; atau meletakkan kepala di antara kaki ‘Aisyah, tidur dalam hangat.

32. Bahkan tuk shalat malam, #Nabi ﷺ minta izin pada istri nan lagi bersama di ranjang; “Apa kau ridha jika malam ini aku menghadap Rabbku?”

33. Karena sempitnya kamar #Nabi ﷺ, tahajjud beliau menghadap ‘Aisyah berbaring. Jika hendak sujud, diisyarati kaki sang istri agar ditekuk.

34. Sang #Nabi ﷺ amatlah pemalu, lebih tersipu dibanding gadis dalam pingitannya. Tak pernah terbahak, hanya senyum tulusnya semanis madu.

35. Sang #Nabi ﷺ tak suka diistimewakan. Jika berbagi peran di perjalanan beliau selalu mencari peluang berkontribusi; hatta menyiapkan api.

36. Jika dihadapkan pada pilihan, Sang #Nabi ﷺ selalu mengambil hal yang ringan & mudah; selama ia tak jatuh pada apa yang dilarang Allah.

37. “Tak pernah kulihat”, kata Anas, “#Nabi ﷺ marah atau membalas laku buruk atas diri beliau. Beliau marah jika Allah & agamaNya dinista.”

38. “Pernah 3 x hilal berlalu”, ujar ‘Aisyah, “Tiada nyala api di rumah kami.” Apa penyambung hidup #Nabi ﷺ?, tanya ‘Urwah. “Kurma & air .”

39. Kelembutan Sang #Nabi ﷺ tak terhalangi & tak menghalangi ibadahnya. Umamah binti Abil ‘Ash, sang cucu, sering digendong dalam shalatnya.

40. Al Husain naik ke punggung #Nabi ﷺ saat sujud. Beliau tak bangkit hingga Al Husain puas bermain. Nanti, beliau minta maaf pada hadirin.

41. Saat para cucu jadikan #Nabi ﷺ kuda-kudaan, merangkak kian-kemari, kata Abu Hurairah, “Tunggangan kalian paling mulia di langit & bumi”.

42. #Nabi ﷺ lalu tersenyum bersabda, "Pun penunggangnya, adalah yang terbaik." Ya Allah, curahi kami rahmatMu tuk kelak bersamanya di surga.

Allahumma sholli 'ala muhammad....

Biodata nabi Muhammad

Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW

Biodata Manusia idola terbaik, Termulia dan terfaforit Di Dunia dan akhirat

بِسْــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Manusia itu bernama NABI MUHAMMAD SAW.

Berikut biodata beliau :

GELAR
1. Rasulullah
2. An-Nabi
3. Khootamul Anbiyaa’ wal Mursaliin
3. Al-Mushthofaa
4. Al-Amiin
5. Shollollahu ‘alaihi wa Sallam (Sholawat dari Alloh & salaam atasNya)

KUN-YAH: Abal Qasim

NAMA: Muhammad Bin Abdulloh

NASAB:
(Jalur Ayah)
Abdulloh bin Abdul Muttholib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushoy bin Kilaab bin Murroh bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghoolib bin Fihr bin Maalik bin An-Nadhr bin Kinaanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyaas bin Mudhor bin Nizar bin Ma’ad bin Adnaan bin Isma’iil bin Ibrohiim

Nenek dari jalur ayah: Faathimah binti Amr Al Makhzuumiyyah

(Jalur Ibu)
Aminah binti Wahb bin Abdu Manaaf bin Zuhroh bin Kilaab.

Nenek dari jalur ibu: Barroh binti abdil ‘uzza

NISBAH: Al-Makki (Makkah)

LAHIR:
Makkah, 12 Robii’ul Awwal 52 S.H (Tahun gajah) / 22 April 571 M)

DIUTUS MENJADI ROSUL: saat berumur 40 tahun saat beribadah di gua hiro

HIJRAH KE MADINAH : pada bulan Robii’ul Awwal saat berumur 53 tahun

MENJADI PANGLIMA PERANG SEBANYAK : 27 kali dan mengutus pasukan perang sebanyak ± 56 kali

HAJI : 1 kali

UMROH : 4 kali

WAFAT:
Madinah, senin 12 Robii’ul Awwal 11 H/ (632 M) (genap 63 tahun).

DIMAKAMKAN:
Di Rumah Sy Aisyah, di kompleks Masjid Nabawi

ETNIS:
Arab, suku Quraisy, bani Hasyimiyah

UMMAHATUL MU’MINIIN (Para Istri Nabi):
1. Khoodijah binti Khuwailid,
2. Saudah binti Zum’ah,
3. Aisyah binti Abu Bakar,
4. Hafshoh binti Umar,
5. Zaynab binti Khuzaymah,
6. Hindun binti Abi Umayyah,
7. Zaynab binti Jahsy,
8. Juwayriyah binti Harits,
9. Romlah binti Abu Sufyan,
10. Shoofiyah binti Huyay,
11. Maymuunah binti al-Harits,
12. Mariah binti Syam’un

ANAK-ANAK NABI:
1. Al-Qoosim,
2. Abdulloh,
3. Zainab,
4. Ruqoyyah,
5.Ummu Kultsuum,
6. Faathimah,
7. Ibrohim

اللهم صل علے سيدنـا وحبيبنـا وشفيعنـا ومولانـا محمد وعلے آلـہ وصحبـہ وسلم
[10:55 03/01/2015] Bu Septri: Ooh nabi, semoga engkau tersenyum melihat kami datang padamu, di telaga itu

Aamiiin