RSS

Inspirasi dari budaya dan adat minangkabau

Inspirasi dari Budaya dan Adat Minangkabau

Menjelajah Sumatera Barat selama 5 hari (22 - 26 Desember 2014) membawa banyak inspirasi bagi kami dari Sekolah Alam Tangerang. Apalagi kami berkesempatan mendapatkan penjelasan khusus tentang BAM (Budaya dan Adat Minangkabau) dari Bang Ade Sekolahalam Minangkabau selama 3 sesi, membuat kami ta'jub.
Berikut ini adalah sekelumit sharing yang mudah2an bisa bermanfaat, terutama bagi rekan2 guru dan pengelola sekolah alam.

1. Alam terkembang menjadi guru.
Sekolah dan alam tidak terpisahkan. Karena itu penulisan yang benar adalah "sekolahalam". Jadi singkatannya SM dong...bukan SAM :-)

2. Sistem matrilineal bertujuan untuk melindungi kaum wanita. Apabila suami "berkhianat" maka wanita bisa bertahan menghidupi keluarganya dengan hasil tanah ulayat.

3. Adanya pembagian tugas yang jelas di Rumah Gadang antara "Mamak" yang mengelola tanah ulayat dan "Bundo Kanduang" sebagai Pengelola hasil produksi tanah ulayat (bendahara Rumah Gadang).

4. Manajemen alokasi.
Di muka rumah gadang terdapat 4 rangkiang/lumbuang tempat menyimpan hasil panen, yaitu untuk kebutuhan konsumsi penghuni rumah gadang, untuk biaya pendidikan dan kesehatan, untuk biaya pemeliharaan rumah gadang, dan untuk menjamu tamu dan musafir. Bunda Asih menganalogikan sistem alokasi ini sebagai : untuk konsumsi, asuransi, maintence dan infaq.

5. Majelis syuro yang disebut "Tungku tigo sajarangan".
Di setiap institusi di Sumatera Barat, kebijakan2 yg menyangkut kepentingan komunitas ditentukan oleh "Tungku Tigo Sajarangan" yang terdiri dari : cadiak pandai (orang yg menguasai ilmu duniawi), alim ulama  
(Tokoh agama) dan Ninik Mamak (ketua adat). Tentu saja ada  dampak positif dan negatif dari sistem ini. But at least, bermusyawarah sudah menjadi hal yang biasa di masyarakat.

6. Pendidikan ala surau.
Laki-laki yang berusia di atas 6 tahun (usia SD) tidak boleh lagi tinggal di rumah, melainkan di surau. Di sinilah diberikan ilmu2 ketrampilan dan "persiapan merantau". Misalnya : ketrampilan bercocok tanam, ilmu beladiri, ketrampilan bertukang, dll.
Penanggungjawab ini adalah seorang Syaikh tokoh agama setempat. Dalam prakteknya, beliau dibantu oleh anggota masyarakat yang bersedia berkontribusi sharing ilmu.

7. Pendidikan keputrian.
Bundo Kanduang bertanggung jawab memberikan bekal ketrampilan keputrian kepada anak2 perempuan. Di rumah gadang anak2 putri belajar memasak, menjahit, menyulam dan berbagai ketrampilan lainnya.

8. "Kato nan ampek". Sebagai bekal merantau.
Salah satu bekal yang sangat penting untuk merantau adalah etika dan sopan santun. Selain ilmu "dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" yaitu menghormati adat istiadat setempat, orang2 minang juga memiliki "Kato nan ampek", yaitu "kato mandaki, kato mandata, kato manurun dan kato malereng" yaitu memilih bahasa yang tepat dan sesuai dengan lawan bicara.
Bekal ini membuat orang Minang di rantau menjadi sangat cair. Di kota2 lain mungkin dikenal Kampung Jawa, Kampung Cina, Kampung Bugis, Kampung Makassar, Kampung Ambon, Kampung Melayu, dan lain2. Namun tidak dikenal "Kampung Minang".

Terimakasih untuk Bang Ade dan Bu Miya atas pelayanan dan sharing ilmunya.

Salam
Andri Fajria
Sekolahalam Tangerang

0 komentar:

Posting Komentar