RSS

Sepenggal catatan dari cisadon

Sepenggal Catatan Dari Cisadon

Kami hanya tiga hari tinggal di sini. Namun rasanya, ruh ini telah merekat dan terikat bersama jiwa pribumi yang rendah hati di lembah sunyi yang masih bagian teritorial negeri...

Selamat datang di lembah Cisadon. Lembah yang tenang,  jauh dari kebisingan suara klakson. Lembah untuk hidupnya ekosistem yang ramah. Lembah yang mengerti apa arti hidup ini. Sungai, hutan, kabut, angin, langit, dan gunung-gunung yang mengelilinginya menjadi saksi tegas atas sinergi anak manusia yang berkolaborasi bersama alam, atas perjalanan menjalankan garis kehidupannya di ketinggilan 1300 mdpl.

Berawal dari perjalanan peserta Pendidikan Dasar Guru Sekolah Alam (PDGSA) dari 3 sekolah. Sekolah Alam Bogor, Sekolah Alam Bintaro dan Sekolah Alam Ciomas yang salah satu agendanya yakni melakukan live in di Lembah Cisadon. Tak kurang dari 10 Jam  bagi kami untuk bisa menempuh perjalanan menuju lembah ini dengan berjalan kaki. Alhamdulillah, Allah SWT telah memberikan kurikulum terbaiknya dalam menempa diri. Kami dihadapkan dengan lumpur yang dalam,  hujan yang lebat, serta angin yang sangat kencang. Namun kami yakin semua itu Allah SWT hadirkan dalam perjalanan sebagai tempaan agar kami kuat dan bisa menggapai misi kami  yang tak mudah, yakni menyiapkan pemimpin peradaban masa depan. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Namun, ada beberapa hal yang setidaknya membuat hati kami terenyuh sedih. Lembah Cisadon menghadirkan 15 anak yang 12 diantaranya tidak bersekolah. Adapun 3 diantaranya yang bersekolah mereka harus melalui jalur yang kami lalui dengan penuh perjuangan. Terbayangkah perjalan itu bagi seorang anak SD yang masuk dipagi hari?

Beruntung! Cisadon memiliki relawan pendidikan bernama Kang Andri  yang rela naik turun gunung serta bergerak tanpa pamrih demi masa depan anak-anak disana. Dengan segala keterbatasannya, dia terus berjuang meluangkan waktu dihari Sabtu dan Minggunya untuk membawa mimpi dari anak-anak lembah Cisadon yang orang tuanya mayoritas para petani pemetik kopi. Namun seorang kang Andri masih terlalu kesulitan menghantarkan anak-anak Cisadon untuk meraih bintangnya. Beliau butuh bantuan kita dari segala sisi.

Kita harus bergerak! Itu azzam kami melihat mirisnya ketimpangan pendidikan di negeri ini. Kang Andri yang memiliki background seorang trail running telah menunjukan suatu nilai-nilai penuh makna atas apa yang dilakukannya. Mari bergerak bersama!

Yordan Aulia A. (Pegiat Sekolah Alam dan Pegiat Komunitas Bagikali)

0 komentar:

Posting Komentar